Suasana keceriaan Burung Sikatan dan anak-anak yang tengah bermain, diubah Mahawan menjadi ajang kontemplasi. Kegembiraan diubahnya menjadi perasaan mawas diri akan ketentuan kodrat dan irodhat dari Sang Maha Pencipta. Bahwa bersama kegembiraan, selalu ada juga ketidak-kekalan, ada daun bambu kering jatuh di sungai tempat anak-anak mandi gembira bermain air. Hanyut membujur ke arah utara sendirian. Mahawan khawatir idiomnya tidak dapat ditangkap penikmat, ditambahkan satu larik lagi sehingga berjumlah 4 larik untuk mempertegas “amanat”-nya. Mahawan memperjelasnya, bahwa daun bambu kering yang gugur hanyut ke utara itu adalah idiom menghadap Sang Pencipta. Ditambahkannya larik, “Ngadhep nang Pengeran”.
Hal lain adanya pemberontakan perlawanan Mahawan dalam menyikapi sifat berkuasa, juga tergambar jelas dalam gurit Jamodin dan Keblak-Keblak (4). Kesewenangan seseorang dalam memperoleh anugerah amanah: kekuasaan, pangkat, dan jabatan. Pada gurit “Jamodin” disindirnya dengan berkata, Pangkat lan derajat mula mesakat / Bisa dadi laknat / Pangkat lan derajat rasane nikmat / Angger ngejak amanat / Donya Temeka akhirat. Mahawan mengingatkan bahwa semua amanah itu akan terus dipertanggungjawabkan hingga akhirat.
- Gurit Using Tokoh-tokoh
Sumber proses intuisi dilakukan tidak terbatas kepada alam saja (Banyuwangi, Muncar, Tumpak Sewu), namun Mahawan tak pelak memperhatikan personal “tokoh-tokoh di sekitarnya”. Melalui ketokohan, Mahawan menyelipkan amanat-amanat kebajikan.
Adalah Mbok Zarkasi, Kik Emang, Mbah Bukani, Hasan Ali, dan Bik Caamah telah menjadi “role-model”. Mahawan sengaja menyelipkan keteladanan dalam amanat yang dibungkus diksi indah, ke dalam jejak langkah sang tokoh. Mulai orang biasa sampai dengan Hasan Ali budayawan Banyuwangi dari Mangir, ditokohkannya. Hasan Ali telah pergi, Mahawan melakukan pilihan cerdik, tidak ingin terjebak subyektivitas karena sesama sejawat seniman dan budayawan Banyuwangi. Melalui gurit Hasan Ali, diharapkannya bisa membuat “jenggirat tangi” (Bangkit dan tergerak).
Perhatikan juga, gurit using halaman 26 yang berjudul “Belanggur”. //Jemelegur suwarane belanggur / Masjid Jami Banyuwangi dadi seksi / Man Padli Kur kang nyolok ambi geni….”. Sosok Man Padli, sebagai tokoh “hang nyolok ambi geni” adalah tokoh fenomenal Masjid Jamik pada tahun 1976-an. Kehadirannya saat ngerandu buka dengan berjalan pincang membawa belanggur selalu ditunggu. Pada penutup Mahawan tak lupa menyelipkan amanat: Suwarane belanggur saiki wis singana / Taping Rahmate Allah / terus teka nang menungsa.
Ketokohan Ibu pada “Godhong Kates” juga menjadi suri teladan yang mengharu biru. Gurit yang diakhiri dengan larik: //Methiki Godhong Kates / Enget emak sampek eluh netes / Eluh dalane urip / Eluh sarane urip /”. Perjuangan ibu yang menginginkan upaya terbaik bagi anaknya, disuguhkan melalui tetesan air mata Mahawan.












