Memetakan Gurit Using Mahawan pada Antologi Keblak-Keblak, saya membaginya dalam beberapa klasifikasi:
- Gurit Using yang telah menjadi Gending Banyuwangi.
Buku antologi ini menjadi upaya melakukan pelurusan dan pencatatan karya puisi Mahawan sendiri. Beberapa puisi Mahawan digunakan sejawatnya, sebagai lirik lagu Banyuwangi. Perubahan serta pemotongan diksi dalam kesenian Banyuwangi, menjadi kebiasaan yang cukup menganggu dalam khazanah dunia sastra sengaja dilawannya. Belum lagi fenomena kekeliruan penyebutan namanya oleh para muda, dengan mencantumkan nama orang lain. Simak album Jazz Patrol Epeng produksi dari Aftana Alin Production. Pada video dituliskan secara salah bahwa lagu “Nyebar Jala” tercantum karya orang yang berbeda.
Pada buku antologi ini, gurit-gurit karya Mahawan telah digunakan sahabatnya sebagai lirik lagu Banyuwangi, antara lain: “Jaran Ucul”, “Inthing-inthing Es” dan “Muncar” berelaborasi bersama BS Noerdian, sedangkan lagu “Nyebar Jala” berelaborasi dengan Mahfud Hariyanto. “Jaran Ucul” adalah puisi yang bercerita tentang perjuangan diciptakannya pada tahun 1976, direkam Ria Record dengan alunan suara Siti Maswah dan iringan Angklung Maestro Sutedjo Hadi. “Inthing-inthing Es” terdapat dalam album Bang Cilang Cilung yang direkam oleh Golden Hand melalui suara Pipit dengan iringan musik Johny dkk. Sedangkan “Nyebar Jala” direkam pada tanggal 10 Januari 1979 oleh Ria Record dengan alunan suara khas Fauria Zaini di bawah iringan Angklung Banyuwangi Putra pimpinan Kacung S.Tamat. Yang menarik adalah Puisi Muncar (halaman 5) yang juga dijadikan lirik lagu, belum pernah direkam sama sekali. Sebenarnya lagu “Muncar”, bersama dengan “Umbul-umbul Belambangan” dan “Nyebar Jala” adalah trilogi gending yang biasanya dinyanyikan choir pada zaman Bupati Djoko Supaat Slamet. Lagu dinyanyikan untuk menyambut tamu kehormatan.
- Gurit Using kondisi sosial budaya masyarakat Banyuwangi
Potret realita kehidupan sosial budaya masyarakat Banyuwangi, ditangkap Mahawan dengan sangat jeli. Berbagai kejadian peristiwa yang telah tercetak kuat diingatannya, dengan mudah dicitrakan dengan lancar dan bernas. Peristiwa-peristiwa sederhana berhasil diolahnya menjadi kritik dan nasihat tentang kebajikan yang apik. Sut-Suut jreng, Thet thiyet-thiyet, Surung Dhayung, Cenggeret, sangat mengasyikkan untuk disimak.
Perhatikan Gurit Using “Nang Jajangan” pada halaman 12, yaitu sbb:
Nang Jajangan
Nang jajangan
Manuk Sikatan pelencatan
Girange sing kakaruwan
Nang jajangan
Banyu kulah deleweran
Lalare pada ciblungan
Nang jajangan
Godhong garing cicir
Keli mengalor, dhewekan
Ngadhep nang Pengeran










