Probolinggo, ArahJatim.com – Deru mesin diesel memecah kesunyian hamparan sawah di Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jumat (25/12/2025). Bukan sedang membajak untuk masa tanam, puluhan petani justru sedang adu tangkas dalam ajang unik bernama “Karapan Sapeh Jepang”.
Kegiatan yang digagas oleh Komunitas Prabulinggih ini menyulap lintasan sawah berlumpur menjadi sirkuit balap yang memacu adrenalin, sekaligus menjadi hiburan akhir tahun yang dinanti masyarakat Probolinggo Raya.
Adrenalin di Atas Lumpur: Antara Keseimbangan dan Kecepatan
Di garis start, atmosfer kompetisi terasa kental. Dua joki tampak sibuk melakukan pengecekan terakhir pada unit traktor mini mereka. Mesin bertenaga 7,5 hingga 15 horse power dipacu maksimal hingga mengeluarkan suara “dredededet” yang khas. Begitu bendera dikibarkan, dua traktor langsung melesat, membelah lumpur sejauh 150 meter dalam dua putaran.
Mengendalikan traktor mini di medan berlumpur ternyata memiliki tantangan tersendiri. Para joki harus memiliki kekuatan fisik ekstra untuk menjaga keseimbangan agar rototiller tetap stabil. Sedikit saja kehilangan fokus, mesin bisa terperosok ke gundukan tanah atau berbelok ke luar lintasan.
Lebih Sulit dari Sapi Konvensional
Keunikan nama “Karapan Sapeh Jepang” merujuk pada traktor mini buatan Jepang yang kini mulai menggantikan peran sapi dalam membajak sawah. Namun, bagi para petani, menjinakkan “sapi mesin” ini ternyata jauh lebih menantang.
Buasan (40), salah satu peserta asal Desa Jangur, mengaku cukup kewalahan pada debut perdananya.
”Susah, Mas. Mengendalikan traktor ini jauh lebih sulit dibanding menggiring sapi atau kerbau. Mesinnya terasa lambat kalau kita tidak pas menjaga keseimbangannya,” ujar Buasan sambil menyeka sisa lumpur di wajahnya.
Meski gagal naik podium, ia merasa bangga bisa ikut serta. Baginya, ajang ini bukan sekadar menang-kalah, melainkan wadah silaturahmi antarpetani dari berbagai daerah.
Dari Sawah Menuju Hiburan Rakyat
Ketua Komunitas Prabulinggih, Imam Safi’i, menjelaskan bahwa tradisi ini berawal dari kegiatan membajak sawah kolektif yang biasanya dilakukan menjelang masa tanam. Melihat potensi keseruan dan antusiasme warga yang tinggi, kegiatan ini pun dipatenkan menjadi agenda rutin akhir tahun.
”Awalnya hanya membajak biasa. Tapi karena unik dan bisa jadi tontonan rakyat, kami buat acara rutin. Tahun ini kami batasi hanya 32 peserta karena minat yang membludak,” kata Imam.
Menjaga Tradisi di Era Modernisasi
”Karapan Sapeh Jepang” kini bukan sekadar balapan mesin. Ini adalah simbol adaptasi petani Probolinggo terhadap teknologi tanpa meninggalkan akar budaya kebersamaan. Selain menjadi ajang unjuk keterampilan, acara ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui ratusan penonton yang memadati area sawah.
Kini, setiap deru mesin di Desa Jangur bukan lagi penanda kerja keras semata, melainkan sorak-sorai kegembiraan rakyat yang merayakan kearifan lokal di tengah modernisasi pertanian.










