Jelang “Telasan Pettok”, Warga Pamekasan Buru Cangkang Ketupat

oleh -

Pamekasan, ArahJatim.com – Menjelang Lebaran Ketupat yang biasa dirayakan sepekan setelah hari raya Idul Fitri, para pembuat dan penjual cangkang (orong) ketupat dan janur (daun kelapa) mulai menjamur. Mereka memenuhi sudut-sudut pasar tradisional yang ada di Kabupaten Pamekasan, Sabtu (30/5/2020).

Seperti terlihat di pasar tradisional Kolpajung, Pasar Gurem, juga pasar-pasar lainnya di Kabupaten Pamekasan, para pedagang cangkang ketupat mulai berjejer memenuhi emperan pasar tradisional untuk menjajakan dagangannya.

Jumiah, salah satu penjual cangkang ketupat mengatakan, empat hari jelang hari raya ketupat, biasanya warga mulai memburu cangkang ketupat di pasar-pasar tradisional.

“Biasanya empat hari sebelum hari raya ketupat, warga mulai memburu (cangkang) ketupat di pasar-pasar tradisional di Kota Pamekasan,” ujar Jumiah, pedagang cangkang ketupat.

Seperti para pedagang lainnya, Jumiah membanderol harga cangkang ketupat antara Rp15 ribu – Rp17 ribu untuk satu ikat yang berisi 10 cangkang. Tak hanya cangkang ketupat sudah jadi yang dijajakan, para pedagang juga menyediakan daun janur sebagai bahan pembuatan cangkang ketupat.

“Tidak hanya menjual cangkang ketupat yang sudah jadi, juga menjual daun janur yang masih muda untuk bahan membuat cangkang ketupat dan berikut lidinya (tulang daun kelapa). Harga jual untuk satu ikat yang berisi 10 cangkang ketupat dibanderol dengan harga Rp15 ribu – Rp17 ribu,” ungkapnya.

Jumiah mengatakan berjualan cangkang ketupat hanyalah aktivitas musiman yang dilakoninya untuk menambah penghasilan, sehari-hari ia bekerja sebagai buruh tani.

Sedangkan Iis warga Veteran, salah seorang pembeli cangkang ketupat mengaku, ketupat adalah hidangan wajib di keluarganya saat Telasan Pettok atau hari raya ketupat.

“Ketupat sudah menjadi hidangan wajib saat Hari Raya Ketupat atau Telasan Pettok. Tidak lengkap rasanya kalau belum ada hidangan ketupat,” ujarnya.

Iis menambahkan, di Pamekasan, hingga hari ketujuh Idul Fitri masih banyak keluarga saling bersilaturahmi. Dan sudah menjadi tradisi turun temurun, harus ada hidangan ketupat yang disajikan bersama opor ayam.

“Kalau di Pamekasan itu lebarannya sampai hari ke-tujuh. Jadi masih banyak keluarga yang bersilaturahmi. Sudah menjadi tradisi, harus ada yang namanya ketupat dan biasanya disajikan dengan opor ayam, mas. Itu makanan wajib,” pungkasnya.

Bagi masyarakat Madura, lebaran ketupat adalah tradisi leluhur yang masih terpelihara hingga kini. Dalam bahasa lokal, orang Madura menyebut Hari Raya Ketupat dengan istilah “Telasen Pettok”. Pada perayaannya, masyarakat Madura biasa menyajikan hidangan wajib yakni ketupat sejenis lontong yang dibungkus daun janur kelapa atau janur siwalan. (ndra)