Kediri, ArahJatim.com – Suasana Keboen Rodjo Resto Kediri pada Sabtu pagi (06/06/2026) tampak berbeda dari biasanya. Ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Pengurus Yayasan Santri Nusantara dan Koperasi Syariah SAE Kediri berkumpul dengan antusiasme tinggi. Bukan sekadar ajang temu kangen biasa, pertemuan ini menjadi momentum penting dalam membedah strategi mengelola dapur keuangan keluarga agar tidak terjebak dalam pusaran investasi bodong dan pinjaman online (pinjol) ilegal.
Edukasi bertajuk “Sosialisasi Perencanaan Keuangan dan Investasi” ini menghadirkan dua figur penting, yaitu Dr. Hj. Anggia Erma Rini, M.K.M., selaku Ketua Komisi VI DPR RI, bersama dengan jajaran manajemen Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Memulai Investasi: Menyisihkan, Bukan Menyisakan!
Dalam sambutannya yang hangat dan interaktif, Dr. Hj. Anggia Erma Rini menekankan pentingnya kecerdasan finansial bagi kaum perempuan, khususnya para ibu yang memegang kendali penuh atas keuangan rumah tangga. Menurutnya, kesalahan terbesar dalam mengelola keuangan adalah paradigma yang keliru tentang cara menabung atau berinvestasi.
”Kalau mau memulai investasi itu rumusnya harus menyisihkan uang di awal dari total pendapatan, bukan menyisakan uang. Kalau nunggu sisa, biasanya malah habis tidak berbekas,” tegas Anggia di hadapan para peserta.
Anggia menambahkan bahwa literasi keuangan ini adalah “oleh-oleh” terbaik yang bisa dibawa pulang oleh para ibu demi masa depan keluarga yang lebih stabil.
Emas Jadi Idola Baru: Dulu Harus ke Toko, Kini Mulai Rp10.000 Lewat Aplikasi
Lebih lanjut, legislator perempuan ini menyoroti bagaimana teknologi telah mengubah lanskap investasi. Jika dahulu investasi emas terkesan tradisional dan harus datang langsung ke toko fisik, kini instrumen pelindung nilai (safe haven) ini jauh lebih inklusif.
”Emas sekarang jadi idola baru dan sangat ramah untuk kantong ibu-ibu. Lewat aplikasi perbankan modern, kita sudah bisa berinvestasi emas mulai dari Rp10.000 saja. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,” ujarnya sembari mengenang masa lalu saat harga emas masih berada di kisaran Rp200.000 per gram, berbanding jauh dengan harga saat ini yang menyentuh angka Rp2.000.000-an.
Namun, Anggia juga mengingatkan agar masyarakat bersabar, karena emas merupakan instrumen jangka panjang yang keuntungannya baru benar-benar terasa setelah satu tahun atau lebih.
BRI Pare Ingatkan Bahaya Laten Pinjol dan Rayuan Manis Investasi Bodong
Senada dengan Anggia, Branch of Head BRI Pare, Tri Suseno, mengimbau para peserta untuk lebih selektif dan rasional dalam menempatkan dana mereka. Ia meminta masyarakat untuk menjauhi platform pinjaman online ilegal yang menawarkan persyaratan instan namun berujung pada teror mental dan finansial bagi lingkungan sekitar.
Tri Suseno juga membongkar pola umum penipuan berkedok investasi yang kerap menjerat kaum hawa dengan iming-iming imbal hasil (return) tidak masuk akal, seperti keuntungan 10% per bulan yang lancar di awal namun membawa kabur modal di akhir.
”Pastikan berinvestasi di platform yang jelas dan patuh pada regulasi perbankan. BRI sendiri memiliki berbagai instrumen yang aman dan dijamin negara, seperti deposito dan obligasi,” jelas Tri Suseno.
Optimisme Pertumbuhan Ekonomi: Penyerapan KUR BRI Pare Tembus Rp1,15 Triliun
Di sela-sela pemaparannya, Tri Suseno membagikan kabar baik mengenai geliat ekonomi lokal di wilayahnya. Tercatat, penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BRI Cabang Pare telah menembus angka luar biasa, yakni Rp1,15 triliun lebih.
Angka fantastis ini mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Komisi VI DPR RI. Anggia mengaku tidak khawatir lagi akan adanya kejenuhan ekonomi atau kelesuan daya beli di masyarakat lokal.
”Mendengar serapan KUR mencapai Rp1,15 triliun itu luar biasa sekali. Padahal itu baru dari satu cabang saja, belum termasuk wilayah barat atau area kota. Ini membuktikan bahwa pelaku usaha mikro dan ibu-ibu kita di Kediri sangat produktif dan ekonominya terus bergerak maju,” pungkas Anggia optimis.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan Yayasan Santri Nusantara dan Koperasi Syariah SAE Kediri dapat menjadi motor penggerak literasi keuangan syariah dan konvensional yang sehat, sekaligus membentengi masyarakat dari jeratan investasi ilegal. (das)





