Indonesia Di Ambang Krisis Melawan Virus Corona

oleh -

ArahJatim.com – Dampak dari merebaknya virus corona akhir-akhir ini mulai diarasakan oleh semua negara di belahan dunia manapun, tak terkecuali Indonesia. Pasien terdampak corona di Indonesia mulai meramaikan media massa negara ini. Hal ini disebabkan semakin bertambahnya jumlah pasien seiring hari berganti.

Orang nomor satu Indonesia, Joko Widodo telah menginstruksikan agar masyarakat terlebih dahulu berdiam di rumah, bekerja di rumah, belajar di rumah, ibadah di rumah, dan sebagainya.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang meminta masyarakat untuk melakukan social distancing atau biasa disebut dengan menjaga jarak dalam bersosial.

Tujuannya adalah memperlambat penyebaran virus corona dan mengurangi risiko angka kematian yang mungkin disebabkan oleh virus ini. Dalam arahan yang diberikan Anies melalui media sosial, masyarakat juga disarankan untuk menghindari kerumunan, selalu menjaga kebersihan, dan membatasi aktivitas di luar rumah.

Berbicara mengenai corona, tentu kita juga berbicara mengenai berbagai macam cara untuk melawan serta mengantisipasi virus mematikan ini. Negara-negara seperti Cina, Italia, Spanyol telah menerapkan sistem lockdown bagi warganya hingga penyebaran corona ini berhenti.

Perlu diketahui, lockdown adalah semacam protokol yang umumnya diterapkan oleh otoritas, baik oleh suatu negara maupun wilayah tertentu untuk mencegah arus orang atau informasi dari dan ke sebuah wilayah atau negara tertentu.

Beberapa negara seperti yang telah disebutkan di atas telah menerapkan sistem lockdown untuk membendung virus corona yang semakin massif. Italia telah menerapkan karantina nasional itu melalui perdana menteri Giuseppe Conte yang telah mengurung 60 juta warganya untuk beberapa saat.

Karena dirasa semakin parahnya penyebaran corona di Indonesia, banyak pihak mulai mempertanyakan ketegasan pemerintah untuk melindungi rakyatnya dari gempuran covid-19 tersebut.

Berkali-kali mereka meminta sang presiden untuk menerapkan lockdown demi kenyamanan bersama, serta membendung virus agar tidak semakin meluas. Jika melihat data terbaru per 25 maret ini Warga Negara Indoneisa telah dinyatakan positif sebanyak 790 orang,  dengan 31 pasien sembuh dan 58 meninggal dunia. Dari data tersebut tentu mereka ingin agar negara ini segera mengambil tindakan atas apa yang telah terjadi.

Di lain pihak, pemerintah sendiri beralasan bahwa lockdown belum diperlukan, karena akibat dari lockdown bisa berakibat fatal, akan lebih banyak lagi dampak yang akan terjadi dari berbagai macam aspek.

Dari berbagai macam aspek yang turut serta akan mempengaruhi, aspek ekonomi dirasa akan sangat berat, pasalnya kita tak butuh untuk terlebih dahulu menjadi seorang pakar ekonomi, sarjana ekonomi maupun seorang yang ahli dalam perekonomian. Kita sebenarnya sudah bisa memprediksikan jauh-jauh hari dengan keadaan seperti ini. Pasar saham anjlok drastis, nilai tukar rupiah yang semakin melemah, harga kebutuhan pokok semakin naik. Artinya dari segi ekonomi memang dampaknya sudah sangat terasa.

Berangkat dari pertimbangan ini, pemerintah tentu tidak akan berspekulasi dengan menerapkan lockdown seperti negara maju pada umumnya, perekonomian negeri ini belum stabil sepenuhnya seperti halnya Cina, Prancis, dan Italia yang kompak untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada warganya ketika mengalami krisis seperti saat ini.

Pemerintah dituntut untuk melakukan inovasi ala Indonesia, dengan pertimbangan negara besar, rakyat banyak, sumber daya melimpah, perekonomian yang cenderung biasa saja.

Kita memang tidak mungkin untuk menerapkan lockdown seperti halnya negara dengan perekonomian kuat, tapi setidaknya pemerintah haruslah memberikan win-win solution untuk warganya agar kepercayaan terhadap pemerintah tidak hilang begitu saja.

Filsuf Cina yang tersohor, Konfusius pernah mengatakan bahwasanya kepercayaan publik lebih penting dari tentara dan makanan, jika tidak ada kepercayaan hanya akan ada kekacauan.

(Arah-007)