Hidup Terlantar di Kota Medan, Fathor Akhirnya Kembali ke Pamekasan

oleh -

Pamekasan, ArahJatim.com – Fathor Rasid alias Mono (62) pria asal Pamekasan yang hidup terlunta-lunta di Kota Medan, Sumatera Utara akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya, di Desa Gurem Kelurahan Parteker, Kecamatan Kota Pamekasan, Senin (16/11/2020).

Kepulangan Mono ke kampung halamannya ini tidak lepas dari peran Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) dan Radio Amatir Penduduk Indonesia (RAPI) Pamekasan.

Keberadaan Mono yang hidup cukup memprihatinkan di Kota Medan, bahkan tinggal di area kuburan, diketahui dari unggahan relawan Kota Medan yang disebar di facebook, grup whatsapp, dan youtube.

Setelah melalui fase waktu kurang lebih satu bulan, tim FRPB dan RAPI Pamekasan yang bekerja sama dengan relawan Surabaya dan relawan Kota Medan langsung bertindak cepat untuk memulangkan pria yang sudah merantau selama 40 tahun itu.

Koordinator Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan, Budi Cahyono mengatakan, beberapa bulan lalu tim relawan FRPB dan tim RAPI Pamekasan mendapat informasi tentang keberadaan warga Pamekasan yang hidup sebatang kara di area kuburan, di Kota Medan.

Bertolak dari informasi tersebut, FRPB Pamekasan langsung berkoordinasi dengan relawan Kota Medan untuk menanyakan lokasi keberadaan pria tersebut (Mono/Fathor Rasid).

Setelah berkoordinasi dengan relawan Medan pada tanggal 28 Oktober 2020, akhirnya Mono ditampung  rumah singgah tim Relawan Medan (Maulana Habib). Sejak itulah relawan Pamekasan berkoordinasi dengan Habib sapaan akrab dari Maulana Habib untuk meminta keterangan perihal identitas Mono.

“Kami meminta beberapa keterangan identitas Pak Mono kepada saudara Habib untuk dicocokkan dengan keluarga yang ada di Pamekasan. Alhamdulillah setelah berkomunikasi dengan Subaidah (ibu Mono), semua keterangan itu benar,” kata Budi Cahyono, Sabtu (14/11/2020).

Budi melanjutkan, karena beberapa keterangan yang disampaikan Mono dinyatakan benar oleh keluarganya maka pihaknya kembali menghubungi tim relawan Medan. Pihak FRPB Pamekasan meminta bantuan relawan Kota Medan agar dapat mengantarkan Mono kembali ke Pamekasan.

“Kita fasilitasi mulai dari awal sampai penjemputan. Memang dalam perjalanan dari Medan sempat ada kendala, karena familinya yang ada di Jakarta ingin ketemu dengan Mono. Maka (tim pengantar) sempat ¬†berhenti di Jakarta,” papar Budi.

Tak hanya di Jakarta, Mono beserta rombongan pengantar juga harus singgah di Kota Surabaya, karena sejumlah kerabatnya di sana menyatakan ingin bertemu. Dan baru Senin (16/11) pagi jam 10.00 WIB, akhirnya Mono tiba di Pamekasan.

“Setelah itu langsung ke Surabaya, karena keluarga di Surabaya juga ingin ketemu maka masih berhenti di Surabaya. Baru tadi sekira jam 10.00 WIB kita bawa pulang ke Pamekasan dan alhamdulillah beliau bisa menghirup udara segar di Kabupaten Pamekasan,” tutupnya. (ndra)