Hati-Hati Membeli Tanah, Warga Surabaya Ini Tertipu Beli Kavling Bodong

by -
Korban mengecek status tanah yang dibelinya di buku tanah Desa Orombulu, Kecamatan Rembang, Pasuruan. (Foto: ist.)

Surabaya, ArahJatim.com – Merasa tertipu atas transaksi jual beli tanah kavling bodong, seorang warga Manukan, Surabaya mengadukan penjual lahan ke Polrestabes Surabaya.

Kejadian ini menimpa Dwi Wahyu Pindarto (52), warga Manukan, Surabaya. Ia merasa tertipu oleh terlapor Krisdianto Putro (35) alias Soleh, warga Rungkut, Surabaya setelah melakukan transaksi jual beli dua kavling tanah seluas masing-masing 144 meter persegi di Desa Orombulu, Kecamatan Rembang, Pasuruan, Jatim.

“Sudah kami laporkan, 29 Juli (2019) lalu di Polrestabes, kasus ini sudah sampai pada tahap penyidikan,” terang Dwi, saat dikonfirmasi, Senin Sore (9/9).

Dwi menerangkan, perkara yang dialaminya ini bermula tahun 2018 silam. Saat itu ia ditawari oleh Krisdianto untuk membeli sebidang tanah kavling di Desa Orombulu, Kecamatan Rembang, Pasuruan, Jatim.

Saat menawarkan lahan, Krisdianto hanya menunjukkan tumpukan Akte Jual Beli (AJB) tahun 1998 yang seolah-olah dibuat oleh mantan Camat Rembang, Muchid Mamuza.

“Ada sekitar 250 AJB waktu itu ditunjukkan ke saya, satu kavling ditawarkan ke saya Rp 10,8 juta,” imbuhnya.

Dalam AJB tersebut termuat transaksi jual beli antara pembeli pertama dan dan pembeli kedua atas obyek tanah yang diperdagangkan. Yaitu obyek tanah Persil Nomer 30 Blok D.2. Desa Orombulu, Kecamatan Rembang, Pasuruan. Korban dalam perkara ini merupakan pembeli ketiga atas obyek tanah kavling tersebut.

Sedangkan surat-surat lainnya oleh terlapor tidak diperlihatkan dengan alasan masih dalam proses pengurusan untuk meningkatkan hak kepemilikan.

Tertarik oleh rayuan Krisdianto, korban akhirnya membeli dua obyek tanah kavling itu dengan luas masing-masing 144 m2 atas nama Kademin dan Suliono.

“Pertengahan April (2018) saya bayar lunas dua kavling tanah yang luasnya masing-masing 144 m2,” paparnya.

Setelah membayar lunas, korban meminta terlapor untuk menunjukkan obyek tanah yang dimaksud,  akan tetapi Krisdianto selalu berkelit dan terkesan menghindar.

Dwi kemudian berinisiatif melakukan pengecekan langsung atas obyek tanah kavling itu melalui Kepala Desa Orombulu. Dan ternyata, obyek tanah Persil 30 Blok D.2 itu tidak pernah tercatat di dalam buku tanah Desa.

“Ternyata bukan hanya saya saja. Menurut kepala desa setempat, sudah banyak orang yang datang. Hampir tiap Minggu kepala desa didatangi oleh orang yang menanyakan hal yang sama,” papar Dwi.

Atas kejadian ini, Dwi Pindarto mengklaim mengalami kerugian sebesar Rp. 21,6 Juta. Dwi berharap pihak kepolisian segera mengusut kasus penipuan yang telah ia laporkan ini. Karena tidak tertutup kemungkinan, perkara ini sudah memakan banyak korban.

“Kami berharap pihak kepolisian bisa mengembangkan laporan ini, tidak menampik kemungkinan korban dalam perkara ini sudah mencapai puluhan atau bahkan ratusan,” pungkasnya. (*)