Harga Solar Industri Meroket, Nelayan Kapal Besar di Pantai Prigi Trenggalek Mulai ‘Gigit Jari’

oleh -
oleh

Trenggalek, ArahJatim.com – Kabar kurang sedap menghantam sektor perikanan di Pantai Prigi, Trenggalek. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar Non-Subsidi (Industri) membuat para nelayan kapal besar di atas 30 Gross Tonnage (GT) harus memutar otak lebih keras demi menjaga dapur tetap ngebul.

​Kenaikan yang cukup signifikan dari Rp 28.150 menjadi Rp 30.550 per liter ini diprediksi akan memangkas pendapatan para Anak Buah Kapal (ABK) secara drastis.

​Kalkulasi Biaya Operasional yang Membengkak

​Bagi nelayan kapal besar, solar bukan sekadar bahan bakar, melainkan urat nadi operasional. Dayak (52), salah satu pemilik kapal asal Watulimo, mengungkapkan betapa beratnya beban biaya yang kini harus ia tanggung.

pasang iklan_rev3

​Dalam satu kali perjalanan melaut selama 10 hari, kapal miliknya rata-rata menghabiskan 1.500 liter solar. Dengan harga terbaru, Dayak harus menyiapkan modal sedikitnya Rp 45,8 juta hanya untuk urusan bahan bakar.

​”Kalau harga ikan lagi bagus mungkin masih bisa tertutup. Tapi kalau harga ikan anjlok, ya sudah, kami tidak bisa melaut,” keluh Dayak saat ditemui pada Rabu (6/5/2026).

​Stok Cadangan: Penyelamat Sementara di Tengah Paceklik

​Meski harga sudah meroket, aktivitas melaut di dermaga Prigi terpantau masih berjalan normal untuk saat ini. Hal ini dikarenakan beberapa pemilik kapal telah melakukan stok BBM sebelum kenaikan harga diumumkan.

​Dayak mengaku masih memiliki cadangan sekitar 5.000 liter solar dari total 8.000 liter yang ia beli sebelumnya. Cadangan ini cukup untuk beberapa kali keberangkatan di tengah kondisi laut yang sedang “musibah ikan” atau minim tangkapan.

​”Harapan kami hanya satu, solar industri ini bisa diturunkan. Jika tidak, pengeluaran akan terus membengkak dan operasional kami terancam berhenti,” tambah pria asal Pati tersebut.

​Nasib ABK: Pendapatan Terancam Dipangkas 40%

​Dampak kenaikan BBM industri ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik kapal, tetapi juga menjalar ke para ABK. Kapal milik Dayak sendiri mempekerjakan antara 26 hingga 29 orang.

​Sistem bagi hasil yang diterapkan membuat pendapatan ABK sangat bergantung pada biaya operasional. Jika biasanya seorang ABK bisa membawa pulang Rp 1 juta sekali berlayar, kini dengan skema harga BBM baru, mereka kemungkinan hanya bisa mengantongi sekitar Rp 600 ribu.

​Penjelasan Syahbandar PPN Prigi

​Sementara itu, pihak berwenang menyebutkan bahwa dampak secara masif memang belum terlihat sepenuhnya di lapangan. Katimja Kesyahbandaran PPN Prigi, Tri Aspriadi Noviyanto, menjelaskan bahwa mayoritas kapal di Prigi masih menggunakan BBM subsidi.

​”Di PPN Prigi, baru ada tiga kapal yang menggunakan solar non-subsidi atau industri. Kapal Putra Leo Makmur sedang doking di Cilacap, lalu ada Kapal Tresna dan Kapal Berkah Nusantara yang saat ini juga belum beroperasi,” jelas Trias.

​Hingga saat ini, pihak Syahbandar belum menerima keluhan resmi secara tertulis dari para pemilik kapal 30 GT, mengingat sebagian besar kapal besar memang belum memiliki jadwal keberangkatan dalam waktu dekat. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.