Kediri, ArahJatim.com – Di tengah memanasnya geopolitik global, sebuah pesan damai yang kuat justru lahir dari sebuah desa kecil di Kediri. Bertepatan dengan puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), berbagai komunitas lintas agama dan lembaga di Kediri Raya menggelar tasyakuran serta doa bersama untuk perdamaian dunia di Situs Persada Soekarno (Ndalem Pojok), Desa Pojok, Kabupaten Kediri, Jumat malam (01/05/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial rutin, melainkan sebuah respons spiritual terhadap situasi dunia yang kian genting, sekaligus upaya membumikan kembali pemikiran Bung Karno tentang kepemimpinan Indonesia di panggung internasional.
Ndalem Pojok: Kawah Candradimuka Sang Proklamator
Pemilihan Situs Ndalem Pojok sebagai lokasi acara memiliki nilai historis yang mendalam. Tempat ini merupakan saksi bisu masa kecil dan pergolakan batin Soekarno. Semangat kemanusiaan dan keadilan yang tumbuh di tempat inilah yang kelak membawa Bung Karno menjadi tokoh kunci perdamaian dunia.
”Spirit dari Ndalem Pojok inilah yang melahirkan gagasan besar seperti Politik Bebas Aktif dan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Ndalem Pojok adalah kawah candradimuka Bung Karno,” ungkap R.M. W.T. Suhardono, S.E., Ketua Panitia acara tersebut.
Puncak pemikiran Soekarno tercermin dalam pidato monumental “To Build the World Anew” di depan PBB tahun 1960, di mana ia menawarkan Pancasila sebagai jalan tengah bagi dunia yang terbelah oleh Perang Dingin.
Ancaman Perang Dunia III di Selat Malaka
Urgensi doa bersama ini kian terasa nyata melihat ketegangan antara Amerika Serikat dan China yang kini berpusat di wilayah strategis Selat Malaka. Sebagai jalur nadi bagi 80% pasokan minyak China, wilayah ini kini menjadi incaran kendali ruang udara oleh pihak asing.
Suhardono memperingatkan bahwa tanpa kewaspadaan dan pendidikan perdamaian, kawasan Indonesia bisa terseret menjadi medan tempur. “Indonesia harus kembali berani bersuara seperti saat KAA Bandung, menjadi penengah yang berwibawa,” tegasnya.
Sains di Balik Doa: Kekuatan Elektromagnetik Hati
Menariknya, acara ini juga membedah kekuatan doa dari sudut pandang sains modern. Merujuk pada riset HeartMath Institute (McCraty), dipaparkan bahwa hati manusia memiliki medan elektromagnetik yang mencapai 5.000 kali lebih kuat dibandingkan kekuatan otak.
Melalui fenomena neuroplastisitas, doa kolektif diyakini mampu memengaruhi konsentrasi jarak jauh.
”Kita memohon agar struktur otak para pemimpin dunia yang saat ini dipenuhi ambisi perang, bisa berubah menjadi keinginan untuk damai. Inilah diplomasi spiritual dari Kediri untuk dunia,” tambah Kushartono, Ketua Bidang Pendidikan Pesantren Jati Diri Bangsa.
Jati Diri Bangsa: Berkat Rahmat Allah
Kushartono menekankan bahwa kunci sukses Indonesia sebagai “Imam Perdamaian Dunia” terletak pada pengakuan atas “Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, sesuai alinea ketiga Pembukaan UUD 1945. Menurutnya, kekuatan Indonesia bukan pada senjata, melainkan pada kedekatan dengan Tuhan.
Sinergi Lintas Komunitas
Acara yang diawali dengan lagu Indonesia Raya ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari:
- DPC Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTA-I) Kediri & Jombang
- Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia
- Organisasi Shiddiqiyyah (ORSHID) & Opshid FKYME Kediri
- Ahlul Bait Indonesia (ABI) Kediri
- Komunitas Pasak Kediri, Sangga Buana, hingga Suara Alam 10.
Kegiatan ditutup dengan santunan anak yatim dan selamatan. Sebuah simbol nyata bahwa pendidikan karakter yang luhur dan kepedulian sosial adalah akar utama dari perdamaian abadi. (das)












