Kediri, ArahJatim.com – Di tengah tantangan zaman digital, kenakalan remaja menjadi isu yang semakin kompleks. Talkshow Mudis: Mudzakaran Urusan Islam yang digelar di Gedung Serbaguna Graha Bhakti, Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Kamis (7/8/2025), menjadi ruang refleksi bersama tentang peran orang tua, guru, dan negara dalam membentengi generasi muda dari pengaruh buruk teknologi.
Acara ini dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai kalangan di Kota Kediri, termasuk penyuluh agama, pengurus Muslimat NU, pelajar, tokoh masyarakat, hingga perwakilan organisasi keagamaan.
Talkshow menghadirkan KH. An’Im Falachudin Mahrus, M.Pd, anggota DPR RI Fraksi PKB Komisi VIII, yang menyampaikan materi utama tentang Dampak dan Pencegahan Kenakalan Remaja di Era Digital. Acara ini juga terselenggara atas kerjasama dengan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, serta dihadiri langsung oleh Kepala Kemenag Kota Kediri, H. A. Zamroni, S.Ag., M.Pd
Teknologi: Ilmu Para Wali yang Jadi Pisau Bermata Dua
Dalam paparannya, KH. An’Im menekankan bahwa teknologi sejatinya adalah kemudahan yang dahulu hanya dimiliki para wali. “Zaman dulu para wali bisa tahu informasi jarak jauh tanpa alat. Sekarang teknologi memfasilitasi itu,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan ini membawa dua dampak: manfaat dan mudarat. Salah satu tantangan terbesarnya adalah ketergantungan anak-anak pada gawai. Ia mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan dan Australia yang sudah membatasi akses media sosial dan kepemilikan HP bagi anak di bawah usia tertentu.
“Sekarang malah HP orang tua dipakai anak. Ini membalik peran. Padahal dampaknya besar, dan ini yang harus kita antisipasi,” tegasnya.
Kenakalan Remaja: Dimulai dari Lingkungan, Dicerminkan dari Teman
KH. An’Im juga menekankan pentingnya lingkungan dan pergaulan. Ia mengutip pepatah Jawa, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, untuk menggambarkan bahwa perilaku anak sangat ditentukan dari proses sejak awal, bahkan dari pemilihan pasangan hidup oleh orang tua.
“Kalau ingin tahu kualitas anak, cukup lihat siapa sahabat akrabnya,” tuturnya. Ia juga mendorong masyarakat untuk tidak menghakimi, melainkan mendampingi. “Yang kita benci itu perbuatannya, bukan anaknya. Doa ibu dan salat malam orang tua itu benteng utama.”
Kemenag: Jangan-Jangan Anak yang Nakal Itu Hanya Butuh Perhatian
Kepala Kemenag Kota Kediri, Zamroni , menambahkan bahwa kenakalan remaja tak bisa dilepaskan dari tiga pelanggaran utama: norma, aturan, dan hukum. Ia juga menyentil fenomena HP yang kini jadi ‘organ tubuh’ kedua manusia.
“HP itu dibawa ke dapur, ke kamar mandi, ke tempat tidur. Bahkan tangan kiri pegang HP, tangan kanan ngulek sambel,” ujarnya yang disambut tawa hadirin.
Ia juga mengajak para orang tua untuk melihat kenakalan remaja sebagai sinyal perhatian.
“Jangan-jangan mereka hanya butuh diajak ngobrol. Pendidikan karakter tak bisa hanya dititipkan ke guru dan ustaz di pondok. Justru yang paling lama bersama anak adalah orang tuanya sendiri.”
Suara Peserta: Saatnya Remaja Dibekali Kesadaran dan Keterampilan
Salah satu peserta, Nasrul dari daerah Lirboyo, mengapresiasi acara ini karena memberikan pemahaman menyeluruh akan persoalan remaja di era digital.
“Talkshow ini meningkatkan kesadaran remaja akan bahaya kenakalan remaja, memberikan pemahaman tentang dampak negatifnya, serta keterampilan mengambil keputusan yang tepat, terutama dalam menyikapi sisi baik dan buruk dari penggunaan HP dan Medsos,” kata Nasrul.
Bukan Tugas Negara Saja, Tapi Kita Semua
KH. An’Im menegaskan bahwa mengatasi kenakalan remaja bukan hanya tugas pemerintah, tapi seluruh elemen masyarakat. “Kalau kemaksiatan dibiarkan menyolok, semua bisa kena azab. Bukan hanya yang maksiat, tapi juga orang baik yang diam.”
Ia berharap pemerintah bisa mempersempit akses terhadap konten-konten tak layak dan memperkuat regulasi. “Kami di DPR akan terus mendorong agar ruang digital ini bisa menjadi ruang manfaat, bukan mudarat.”
Talkshow Mudis diakhiri dengan harapan besar: agar orang tua, guru, tokoh agama, dan negara bisa duduk bersama membentuk benteng yang kuat bagi generasi penerus bangsa.











