Diantara Kekurangan Terdapat Kelebihan, Kemandirian Tuna Rungu Dan Tuna Wicara Menginspirasi

oleh -
Dinas Sosial Kabupaten Kediri bekerja sama dengan Panti Sosial Bina Rungu Wicara “Melati” Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial menggelar kegiatan penjangkauan. (Foto: ArahJatim.com/das)

Kediri, ArahJatim.com – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Sosial bekerja sama dengan Panti Sosial Bina Rungu Wicara “Melati” Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial menggelar kegiatan penjangkauan/outreach pembinaan tuna rungu dan tuna wicara di area meeting room Hotel Lotus Kediri, Jumat (27/4/18).

Turut hadir sebagai Ketua Pelaksana Dra. Endang Wijayani, M.Si dari Panti Sosial Bina Rungu Wicara “Melati” Jakarta bersama Kabid Rehsos Dinsos Kabupaten Kediri Dra. Diyah Saktiana, M.Si. Sebanyak 30 orang tuna rungu dan tuna wicara perwakilan dari 11 kecamatan se-Kabupaten Kediri mengikuti pembinaan ini. Dengan pendampingan Dinsos Kabupaten Kediri, kegiatan ini nantinya akan diterapkan kepada penerima manfaat.

Diyah Saktiana menjelaskan hari ini merupakan hari terakhir dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan mulai tanggal 24 April 2018.

“Selama empat hari, para peserta belajar bimbingan bahasa dan berkomunikasi berbahasa isyarat, pemeriksaan audiometer tingkat ambang batas pendengaran, terapis wicara yaitu mendengar vokal teman-teman penyandang tuna wicara, dan kegiatan ketrampilan kerajinan tangan,” jelasnya.

Selain itu juga diberikan materi dinamika kelompok berbagai macam permainan, keterampilan tata boga yaitu membuat nugget tahu dan sirup sarang burung, serta kreasi bakat peserta seperti menari dan menyanyi menggunakan bahasa isyarat. Di hari terakhir penutupan dilaksanakan penampilan kreasi dari peserta, foto bersama, pemberian bantuan, sertifikat dan plakat.

“Dengan mengikuti pembinaan ini, diharapkan dapat menumbuhkan potensi-potensi positif yang akan membangkitkan kemandirian maupun percaya diri para peserta,” tambahnya.

Tidak berhenti di pembinaan, Dinsos Kabupaten Kediri juga memberi bantuan Rp. 2.500.000,- yang akan dibelanjakan sesuai proposal dari masing-masing peserta.

“Pendampingan juga terus dilakukan hingga program berjalan dan terlaksana dengan baik, hingga para penerima bisa mandiri,” ujar Diyah Saktiana. (das)