Di Antara Dupa dan Coretan: Misi Menyelamatkan Selomangleng

oleh -
oleh

Kediri, ArahJatim.com – Di balik rindangnya pepohonan Gunung Klothok, Goa Selomangleng berdiri bisu, menyimpan jejak sejarah yang kerap luput dari perhatian. Dindingnya gelap, bukan karena usia semata, tapi oleh jelaga dupa dan vandalisme yang perlahan-lahan menggerogoti wajah warisan budaya ini. 

Namun sejak 10 Juni 2025, langkah-langkah kecil tapi pasti mulai diambil untuk menyelamatkannya.

pasang iklan_rev3

Adalah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI (BPK Wilayah XI) yang turun tangan. Tim konservasi memulai pekerjaan yang tampak sederhana: membersihkan. Tapi membersihkan Goa Selomangleng bukan sekadar menghapus kotoran. Ia adalah upaya melawan waktu dan kelalaian manusia.

“Kegiatan ini adalah yang pertama. Goa Selomangleng belum pernah dikonservasi sebelumnya,” ujar Ira Fatmawati, Pamong Budaya Ahli Pertama yang memimpin kegiatan ini. Sejak pagi hari, timnya menyisir ruang demi ruang gua, membersihkan bekas bakaran dupa yang menempel kuat di batu andesit, dan menghapus coretan cat yang baru terlihat setelah jelaga diangkat.

Goa ini memang bukan sembarang tempat. Ia menjadi saksi ritual-ritual spiritual masyarakat, tapi juga tak luput dari ulah tangan-tangan nakal. Jelaga yang menempel bertahun-tahun membuat ukiran dan relief nyaris tak terlihat. Di ruang pertama, coretan cat putih mencolok. Di ruang kedua, ada yang berwarna merah. “Itu yang cukup sulit dibersihkan,” kata Ira.

Sebelum menyentuh batu-batu kuno itu, tim telah melakukan kajian konservasi sejak 2023. Dari situ dipilih bahan pembersih dan metode yang tidak merusak permukaan batu. Bahkan lumut dan lichen di bagian luar pun harus ditangani dengan cara berbeda, menggunakan larutan khusus dan sikat halus.

Namun pekerjaan fisik hanyalah satu sisi dari konservasi. Yang tak kalah penting adalah edukasi. “Kami menghimbau agar dupa tidak dibakar terlalu dekat dengan dinding gua. Minyak dari dupa bisa merusak permukaannya,” ujar Ira. Ia juga mengajak masyarakat agar tidak mencoret, mencungkil, atau mengambil apa pun dari dalam gua.

Konservasi Goa Selomangleng ini bukan hanya soal kebersihan, tapi tentang menghargai warisan. Setiap jelaga yang diseka adalah bentuk penghormatan pada masa lalu. Setiap vandalisme yang dihapus adalah harapan agar generasi mendatang masih bisa melihat relief dan cerita yang terpahat di dinding batu.

Goa Selomangleng, dengan segala kesakralannya, sedang dibersihkan. Tapi lebih dari itu, ia sedang dipulihkan agar tetap bisa menjadi ruang spiritual, sejarah, dan budaya yang utuh. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.