Kediri, ArahJatim.com — Bandara Internasional Dhoho Kediri (DHOHO) mengukuhkan statusnya sebagai salah satu infrastruktur strategis nasional yang paling dinantikan. Dalam acara bertajuk “Infrastructure and Service Readiness for Dhoho International Airport” yang digelar di area Check-in Aisle B, Dhoho Airport, Rabu (10/12/2025), optimisme tinggi menyelimuti potensi bandara yang sepenuhnya dibiayai pihak swasta ini, khususnya dalam memecah kepadatan penerbangan haji dan umrah di Jawa Timur.
Daya Tarik Global: 28 Maskapai Asing Antusias
Maksim Arisandi, Direktur PT SDHI (selaku pengembang), menyatakan bahwa kegiatan dua hari bersama anggota Barindo dan stakeholder terkait bertujuan mengoptimalkan Dhoho sebagai bandara internasional. Dhoho, yang sejak Agustus lalu resmi berstatus internasional, bukan sekadar proyek bandara biasa.
“Ini adalah Bandara Swasta Murni dan Tersertifikasi Pertama di Indonesia,” tegas Maksim. “Visi kami adalah menjadikan bandara ini sebagai mesin ekonomi baru untuk Kediri, wilayah Mataraman, dan koridor Jawa yang lebih luas.”
Antusiasme dunia internasional sangat terasa. Dari sekitar 30 maskapai asing yang diundang, 28 maskapai hadir, mewakili Timur Tengah, Asia Tenggara, Tiongkok, dan Jepang. Ini menunjukkan minat besar para pelaku industri penerbangan global terhadap catchment area Dhoho yang dinilai sangat luas dan menarik.
“Kami terkesan dengan ketertarikan Anda datang ke Kediri. Saya yakin Anda akan lebih tertarik setelah melihat fasilitas kami hari ini,” imbuh Maksim, menyambut perwakilan maskapai seperti Emirates, Qatar Airways, China Airlines, Turkish Airlines, dan lainnya.
Optimisme Embarkasi Haji dan Umrah
Persoalan haji dan umrah menjadi fokus utama. Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyampaikan komitmennya untuk segera menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk asrama haji.
“Perjalanan panjang telah dilalui. Sekarang tinggal persiapan terakhir. Harapan kami, meskipun 2026 tidak memungkinkan, di 2027 Dhoho bisa menjadi Embarkasi Haji,” ujar Bupati Dhito.
Bupati Dhito menambahkan, dengan catchment area mencakup 8-12 kota/kabupaten di sekitarnya, traffic haji dan umrah di Dhoho sangat menarik, baik dari segi bisnis maupun untuk mempermudah jamaah.
“Kami tidak pernah membayangkan ada pesawat terbang dari Kediri langsung menuju Jeddah. Dan ini akan segera terealisasi. Saya harap dalam 1-2 bulan ke depan akan ada mulai penerbangan umrah pertama,” pungkasnya penuh harap.
Kepastian Menteri: Dhoho Layak, 2027 Siap!
Mochamad Irfan Yusuf, Menteri Haji dan Umrah, memberikan kepastian. Ia menjelaskan bahwa keputusan mencari alternatif Bandara Juanda diambil karena Juanda sudah terlalu overload.
“Secara teknis, Bandara Dhoho memang layak untuk penerbangan haji maupun umrah,” kata Menteri Irfan.
Ia mengakui bahwa kendala non-teknis menghambat keputusan penggunaan Dhoho pada musim haji 2026, karena persiapan di Juanda sudah terlanjur berjalan. Namun, Irfan menegaskan:
“Kami sudah mendapatkan kepastian bahwa (mulai) tahun 2027 untuk pemberangkatan maupun kepulangan jamaah haji, bisa dilakukan di Bandara Dhoho ini.”
Sementara untuk penerbangan umrah, Menteri Irfan menyatakan secara teknis sudah siap. “Tinggal bagaimana koordinasi antar stakeholder terkait masalah umrah ini,” tutupnya, seraya mengapresiasi fasilitas bandara yang dinilainya sangat bagus dan layak sebagai bandara internasional. (das)










