Tulungagung, Arahjatim.com – “Genduri Bukak Sawah”, adalah bentuk kreatifitas kekinian yang diteruskan generasi dalam upaya tetap menyambung budaya dan jamannya. Hal itu terjadi di desa Kendalbulur, kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung. Ini adalah bagian dari pelaksanaan UU nomor 5 tahun 2017,tentang Pemajuan Kebudayaan, yang riil dilakukan.
Senin, 11/2/2024, pemerintah desa dan lembaga adat desa Kendalbulur, serta seluruh masyarakat pertanian desa setempat,menyambut bangga menjalankan prosesi buka sawah, atau lebih dikenal memulai masa tanam di bulan ini. Dalam kegiatan tersebut, desa Kendalbulur, selalu melakukan dengan mengambil dan melanjutkan tradisi nenek moyang sebagai bagian dari kearifan lokal, yang tetap dijaga Konsistenitasnya.
Dalam agenda tersebut, prosesinya cukup kental nuansa kearifanya, dengan gelaran ” Genduri Bukak Sawah “, yang selain melibatkan seluruh unsur masyarakat petani,saling membawa perlengkapan kenduri, atau ambengan dan dijalankan di areal persawahan.
Adapun tempat sentral kegiatan itu dilakukan di sebuah punden desa, yang merupakan ” cikal bakal ” desa setempat. Adapun tempatnya di areal “Punden Beji- Setono Ampel”.
Ketua lembaga adat desa Sindungwarih Kendalbulur, kecamatan Boyolangu, Saji, mengaku senang dengan kegiatan seperti ini. Dalam sambutanya dirinya mengaku bangga, bila kearifan lokal masih terjaga di desa Kendalbulur.
” Selaku ketua lembaga adat, saya mengucapkan terimakasih atas kekompakan masyarakat dalam acara ini. Kegiatan ini adalah bentuk menghormati kearifan lokal. Genduri adalah bentuk ritual doa, diharapkan nanti masa panen diberi keberhasilan dan hasil yang melimpah “, ungkap ketua lembaga adat desa Kendalbulur.
Agenda itu termasuk istimewa, karena prosesi budaya tersebut, selain menjadi kebanggaan masyarakat, acara juga dihadiri tokoh tokoh, termasuk anggota DPRD Jatim Guntur Wahono, dan anggota DPR-RI Endro Hermono dan Dewan Penasehat Apdesi Drs Budi setia Hadi SH, MH.
Sementara kepala desa Kendalbulur, Anang Mustofa,dalam sambutanya , sangat mengapresiasi kepada seluruh warganya, termasuk semua unsur pemerintah desa, lembaga adat dan semua warga desa Kendalbulur atas dukungannya dalam acara tersebut.
” Bahwa agenda kebudayaan yang merupakan kearifan lokal yang ada, itu menggunakan dana desa yang dikelola lembaga adat desa. Agenda seperti ini, termasuk Genduri selalu terjaga. Ini merupakan identitas desa kami yang tetap kami pelihara. Selain dilakukan termasuk doa bersama , agenda ini mengukuhkan rasa kebersamaan, kegotong-royongan,dan kerukunanya. Kerukunan itu penting, sebagai identitas desa”, ungkap Gus Anang, panggilan akrap kades yang sudah banyak mengukuhkan prestasi, atas inovasi yang dikelolanya.
Agenda yang dikemas membudaya itu sebelumnya malamnya juga ditandai dengan kegiatan mocopatan yang dilakukan kelompok mocopat mardilaras desa setempat.











