Bangkalan, ArahJatim.com – Demonstrasi yang dilakukan oleh ratusan siswa MAN Bangkalan di halaman sekolahnya senin (5/8) kemarin rupanya tak selesai sampai disitu, demo tersebut nyatanya memaksa DPRD Bangkalan untuk menyidak MAN Bangkalan pada selasa (6/8).
Kali ini anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman Tahir menyampaikan jika siswa melakukan demo bukanlah sesuatu hal yang bisa dibilang luar biasa, namun akumulasi masalah yang selama ini terjadi di MAN Bangkalan, kurangnya komunikasi antara guru, murid serta orang tua juga menjadi salah satu faktor penyebab kejadian tersebut.
“Kami datang ke MAN Bangkalan untuk mendampingi siswa agar proses belajar mengajar berjalan seperti biasanya,” paparnya.
Pihaknya merasa ada keanehan jika siswa harus dituntut membayar sejumlah buku serta uang infaq yang cukup besar, padahal infaq bukanlah sesuatu yang diwajibkan apalagi sampai menekan para siswa. Dari sejumlah persoalan tersebut munculah konflik yang terjadi seperti yang telah terjadi.
Baca Juga :
- Siswa MAN Bangkalan Unjuk Rasa Lempar Buku
- Sah! Bupati Bangkalan Berpoligami
- Menikah Yes, Poligami No!
“Mudah-mudahan untuk kedepannya kejadian tersebut tak terulang lagi dan menjadi perhatian bagi semua pihak,” tuturnya
Sementara itu, salah satu siswa yang bernama husein mengaku kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh pihak sekolah terkait tidak adanya transparansi dalam rincian anggaran yang harus dibayarkan oleh siswa, ia beralasan kejadian tersebut semata-mata karena kekecewaan para siswa selama ini.
Menurutnya, selain Rp 1,2 Juta untuk uang buku, siswa dipungut biaya Uang daftar ulang sebesar Rp 1.5 Juta, dan proses pendaftaran ulang juga diminta membayar infaq. Besarannya untuk golongan 1 sebesar 900 ribu, golongan 2 sebesar 1 juta dan golongan 3, sebesar 2 Juta. Dirinya mengaku sudah mencari data rincian terkait pengeluaran buku yang sudah dibeli, tetapi pihak guru mengakui belum mengetahui dan kepala sekolahpun sulit ditemui.

“Kita tidak mau membahas pungli tapi kenapa dirasa akhir akhir pembayarannya ini janggal, kami sangat kecewa. Akhirnya kami perwakilan dari siswa datang untuk mendatangi kepala sekolah, tapi sulit ditemui,” cetusnya
Husein menambahkan bahwa para siswa tidak akan begitu protes jka ada transparansi dana yang harus dikeluarkan, meskipun nantinya ada keberatan dari pihaknya.
“Kita tidak mau membahas pungli tapi kenapa dirasa akhir akhir pembayarannya ini janggal kami sangat kecewa. Akhirnya kami perwakilan dari siswa datang untuk mendatangi kepala sekolah, tapi sulit ditemui,” ungkapnya.
Sementara itu kepala sekolah MAN Bangkalan M Ali Wafa mengaku jika pembayaran buku sudah maksimal seperti apa yang telah dirapatkan bersama komite, dewan guru saat pemberian raport.
“Kami tidak menaikkan harga buku, demi Allah, kami sudah mengambil penerbit resmi, bisa dibuka di Candra apakah itu penerbit yang nakal atau siapa. Kemungkinan ada yang tidak puas dari pihak guru, atau dari murid yang tidak saya ketahui, semenjak saya ada di MAN Bangkalan,” jelasnya.
Wafa juga menambahkan bahwa pada tahun tahun sebelumnya harga buku lebih mahal daripada tahun ajaran 2019/2020.
“Pada tahun sebelumnya sebagian guru mengadakan buku panduan sendiri-sendiri, harganya ada yang 200, 150 ribu persatu buku. Itu melampaui lebih tinggi, berat terhadap murid jadinya saya tidak suka jangan begitu kasihan anak-anak,” imbuhnya.
Terkait infaq sebesar 900 ribu untuk pembangunan musholla, ia memaparkan, semua siswa baru boleh mengisi formulir, jika tidak mampu tidak harus meminta surat rekomendasi dari komite.
“Itu bukan dari saya, itu layanan dari komite, siapa yang berinfaq nantinya mereka tanda tangan sendiri. Makanya di sana ada pernyataan untuk infaq siapa yang mau menyumbang atau tidak,” katanya.
Dia mengungkapkan, terkait uang pendaftaran sebesar Rp. 2 juta itu tidak benar. Yang ada hanya iuran komite seberar 100 ribu perbulan. karena uang Biaya Operasi Sekolah (BOS) tidak cukup. (Fik/Rid)











