Kediri, ArahJatim.com — Balai Pengembangan Kompetensi ASN di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri hari ini tampak berbeda. Sorot mata penuh harap dari para siswa menyambut kunjungan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dalam peninjauan fasilitas Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri.
Bupati Hanindhito Himawan Pramana, atau yang akrab disapa Mas Dhito, menyampaikan bahwa pembangunan sekolah rakyat ini merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Ia menekankan bahwa Gubernur Khofifah tidak hanya mengawal program dari kejauhan, tapi turut aktif memantau langsung progres di tiap kabupaten dan kota.
“Kami ini diabsen tiap hari sama Bu Gubernur di grup. Sekolah rakyat, koperasi desa, semua dimonitor dan dilombakan istilahnya. Ini kunjungan beliau yang ke-9 atau 10, padahal baru tiga hari di Kediri,” ujar Mas Dhito.
Mas Dhito juga berharap SRMA 24 ini menjadi salah satu sekolah rakyat dengan fasilitas terlengkap dan lingkungan yang paling layak untuk menunjang tumbuh kembang generasi muda.
Sementara itu, Gubernur Khofifah menyampaikan kekagumannya pada sarana dan prasarana SRMA 24 yang dinilainya setara dengan sekolah berstandar internasional.
“Kita bicara soal anak-anak dari desil 1, mereka berasal dari 10% keluarga dengan kondisi ekonomi paling rendah. Tapi hari ini kita lihat, mereka berhak mendapatkan fasilitas terbaik. Kamar ber-AC, kamar mandi yang lebih bagus dari rumah saya mungkin, ventilasi sehat, kantin yang seperti di sekolah internasional, kelas-kelas yang luar biasa,” tutur Khofifah dengan mata berkaca-kaca.
Ia pun mengusulkan agar SRMA 24 yang berlokasi tak jauh dari Kecamatan Pare, daerah yang dikenal sebagai kampung Inggris, dapat memanfaatkan keunggulan lokasi dengan menyisipkan pembelajaran bahasa Inggris secara rutin.
“Coba bayangkan, Senin, Rabu, Jumat mereka wajib berbahasa Inggris. Enam bulan saja di sini, Insya Allah mereka sudah fasih,” tambahnya.
Tak hanya kemampuan akademik, Gubernur juga berharap SRMA 24 dapat menjadi pusat pendidikan karakter. Ia menyarankan agar ruang aula yang luas bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk TNI, POLRI, dan pejabat daerah, untuk memotivasi para siswa meraih cita-cita setinggi langit.
“Tanya anak-anak: ‘Kamu ingin jadi apa?’ Kalau mereka jawab ‘dokter spesialis jantung’, itu luar biasa. Harapan seperti ini harus kita pupuk dan fasilitasi,” pungkasnya.
SRMA 24 Kediri adalah salah satu bentuk inovasi pendidikan inklusif di Jawa Timur, memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk meraih mimpi dengan penuh martabat. Komitmen pemerintah daerah dan provinsi dalam menghadirkan pendidikan berkualitas kini telah membuahkan hasil yang nyata, sekolah yang tak hanya mengajar, tapi juga memuliakan. (das)











