Skema ketiga adalah berbasis gotong royong lembaga amil zakat termasuk donasi dari berbagai pihak, mulai ASN, swasta, hingga BUMN.
”Ini sudah mulai disalurkan ke warga terdampak. Jumlahnya untuk ASN saja hari ini 1.950 paket, dan nanti kami bagikan lagi tahap berikutnya,” ujar Mujiono.
Skema keempat adalah gotong royong berbasis sekolah yang juga sudah berjalan. Sekolah mendata dan menyalurkan bantuan ke warga terdampak pengalihan belajar ke rumah.
”Jadi sekolah bergotong royong membantu warga yang selama ini menggantungkan pendapatan ke kegiatan sekolah, seperti pengemudi becak yang tak bisa antar-jemput pelajar, PKL mikro yang berjualan depan sekolah, dan sebagainya. Total dari sekolah menjangkau hampir 10.000 warga,” ujarnya.
Baca juga:
- Banyuwangi Kembali Salurkan Jaring Pengaman Bagi Warga Berpendapatan Harian Terdampak Corona.
- Ada Kupon Makan Pekerja Informal, Ini Kata Warung sampai Ojol Di Banyuwangi.
”Sudah mulai jalan, seperti SMA Giri bahkan sudah mengumpulkan 3,5 ton beras dan ragam kebutuhan pokok lain. Kemudian sekolah-sekolah di Muncar juga sudah menyalurkan, dan masih banyak lagi,” imbuh Mujiono.

Skema kelima, gotong royong berbasis kecamatan dan desa yang fokus memenuhi kebutuhan pokok Orang Dalam Pemantauan dan Pasien Dalam Pengawasan beserta keluarganya, termasuk di rumah isolasi. Ini dilakukan agar mereka optimal melakukan isolasi tanpa perlu memikirkan kebutuhan pokok.
“Pembagian skema-skema dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih penyaluran. Penyaluran bantuan sendiri akan dilakukan selama tiga bulan dan kembali dievaluasi melihat situasi dan kondisi selanjutnya,” pungkas Mujiono. (adv.hmsbwi/ful)










