Ruwatan Warisan Leluhur: Tulungagung Kemas Jamasan Kyai Upas Jadi Pesta Budaya

oleh -
oleh

Tulungagung, ArahJatim.com – Tradisi jamasan pusaka Kyai Upas di Tulungagung tahun ini hadir dalam kemasan berbeda. Tak lagi sekadar ritual internal “ndalem kanjengan” seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesi sakral ini kini menjelma menjadi Festival Budaya Spiritual Nasional. Sebuah transformasi budaya yang menggandeng berbagai elemen masyarakat, dari seniman, pegiat budaya, hingga pelaku UMKM lokal.

Rangkaian acara dimulai sejak Kamis, 10 Juli 2025, dan berpuncak pada Jumat Wage, 11 Juli 2025, dengan prosesi siraman tombak pusaka Kyai Upas yang sakral. Tidak hanya dipusatkan di Ndalem Kanjengan, kegiatan tahun ini juga menyebar ke berbagai titik penting seperti Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa, dan sejumlah situs budaya lainnya.

Suasana berbeda terasa sejak awal. Di halaman pendapa, jejeran stan UMKM menampilkan produk khas berbasis budaya. Aroma rempah jamu, batik tulis, kerajinan bambu, hingga atraksi seni tradisi saling bersahutan menciptakan harmoni antara sakralitas dan keramaian budaya.

pasang iklan_rev3

Menghidupkan Tradisi, Menumbuhkan Ekonomi

“Kami mencoba menghidupkan kembali tradisi ini agar lebih menyatu dengan masyarakat. Tujuannya jelas, agar generasi muda memahami sejarah dan identitas budayanya sendiri,” ujar PJ Kadisbudpar Tulungagung, Yohanes Bagus K., yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan.

Ia menyebut bahwa kegiatan ini bukan semata seremoni warisan, melainkan bisa menjadi aset wisata spiritual yang edukatif dan bernilai ekonomi. Berkat dukungan dari Kementerian dan APBD, kemasan kegiatan pun lebih lengkap dan atraktif, tanpa mengurangi nilai kesakralannya.

Bupati: Sakral dan Berdaya Guna

Setelah prosesi siraman tombak selesai, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang menyukseskan acara tahunan ini. Ia menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur yang sarat nilai.

“Kegiatan ini adalah cermin kebersamaan. Tradisi seperti ini bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan daerah jika dikembangkan dengan tepat.” ujar Bupati GS.

Bubur Suro: Akhir yang Manis dan Bermakna

Acara ditutup dengan pembagian bubur suro, hidangan tradisional yang diyakini membawa berkah dan kelancaran rejeki bagi siapa saja yang menyantapnya. Suasana penuh khidmat terasa saat para tamu undangan, dari unsur Forkopimda, TNI-Polri, hingga masyarakat umum, menyantap sajian khas tersebut bersama-sama.

Dalam gemuruh gamelan dan harumnya dupa, tradisi jamasan Kyai Upas membuktikan bahwa warisan budaya bisa terus hidup selama dirawat dengan cinta, disajikan dengan kebanggaan, dan diceritakan kepada generasi yang akan datang. (don1) 

No More Posts Available.

No more pages to load.