Banyuwangi, ArahJatim.com – Kehadiran balita SAS membuat suasana rumah milik pasangan Heri Purnomo dan Setiyani berbeda dari biasanya. Rumah yang terletak di Dusun Pandanrejo, Desa Dendalrejo, Kecamatan Tegaldelimo, Banyuwangi itu kini ramai dikunjungi tetangga hanya untuk sekadar melihat balita yang sebelumnya ditemukan terkunci selama tiga hari di dalam rumah bersama jasad ayahnya di Jember.
Kondisi Ayu, nama samaran balita tersebut, semakin hari menunjukkan perkembangan yang baik dan terlihat ceria setelah sebelumnya terkulai lemas lantaran tidak mendapat asupan makanan selama tiga hari. Di rumah paman dan bibinya, Ayu juga mudah berinteraksi dengan teman sebayanya. Bersama teman barunya, balita ajaib tersebut juga tampak mulai aktif ikut bermain.
Agar kedekatan secara emosional semakin erat, paman dan bibi Ayu kini juga mulai membiasakan keponakannya untuk memanggilnya dengan sebutan bapak dan mamak. Wajah Ayu tampak lebih ceria saat ibu kandungnya yang menjadi TKW di Taiwan menghubunginya melalui sambungan video call. Keceriaan Ayu tampaknya mampu menjadi obat pelipur lara bagi Sulastri yang masih dalam kondisi berduka lantaran ditinggal suaminya untuk selama-lamanya.
Sulastri juga menyerahkan anak kandungnya tersebut agar bisa dirawat di Banyuwangi selama dirinya masih bekerja di Taiwan. Kepergian Aan Junaidi alias Fauzi yang begitu cepat tak disangka-sangka oleh Sulastri. Menurut Sulastri, suaminya tersebut tak pernah mengeluh sakit apapun selama ditinggal dirinya di Taiwan.
Sambungan telepon pada malam takbir Idul Adha lalu menjadi percakapannya yang terakhir sebelum akhirnya Fauzi ditemukan meninggal dunia di dalam kamarnya.
”Terakhir kali video call itu ya malam takbir Idul Adha, pagi harinya saya whatsapp lagi tapi hanya centang dua enggak dibaca-baca. Tiga hari setelah itu baru saya dapat kabar kalau suami saya sudah meninggal. Suami saya enggak pernah mengeluh sakit kepada saya, tapi ini mungkin jalannya suami saya. Saya sudah ikhlas. Saya titipkan anak saya kepada kakak saya yang ada di Banyuwangi. Saya masih belum bisa pulang karena sudah terikat kontrak pekerjaan di Taiwan,” kata Sulastri melalui sambungan telepon.

Heri Purnomo, kakak ipar Sulastri yang sekaligus paman dari Ayu juga tak merasa keberatan jika Ayu tinggal di rumahnya. Heri dan istrinya malah mengaku senang jika orang tuanya sudah mengizinkan anaknya untuk tinggal bersamanya.
”Dia (Sulastri) tadi telepon kalau kita diminta merawat anaknya. Insya Allah kondisinya semakin sehat. Ayu juga sudah mulai bermain dengan anak-anak di kampung, dia gampang akrab sama orang. Kita juga biasakan Ayu untuk panggil kami bapak dan mamak, biar seperti kakak-kakaknya,” ujar Bapak tiga anak ini.
Seperti diberitakan, warga perumahan Kaliwining Asri Blok C-6, Dusun Bedadung Kulon, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Jember dibuat heboh dengan penemuan jasad pria di dalam sebuah rumah beberapa hari lalu. Jasad bernama Aan Junaidi atau yang akrab disapa Fauzi tersebut ditemukan sudah membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Yang bikin miris dan menyayat hati semua orang, saat ditemukan, Ayu, anak kandung dari Fauzi masih berada di samping jasad dengan kondisi lemah tanpa makan dan minum, tiga hari tengah memeluk jasad ayahnya. (ful)







