Kediri, ArahJatim.com – Pemerintah Kabupaten Kediri terus memperkuat langkah nyata dalam meminimalisir risiko kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api. Terbaru, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kediri melakukan koordinasi intensif dengan Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya untuk membahas transformasi infrastruktur di wilayah tersebut, Kamis (22/1/2026).
Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 500.7/2702/02/SJ terkait penanganan perlintasan sebidang guna menjamin keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan raya.
Usulan Pembangunan Underpass di Tiga Titik Krusial
Dalam pertemuan tersebut, Dishub Kabupaten Kediri secara resmi mengusulkan pengalihan status perlintasan sebidang menjadi tidak sebidang melalui pembangunan underpass. Fokus utama pembangunan ini direncanakan pada tiga titik jalur perlintasan langsung (JPL) yang memiliki intensitas kendaraan cukup tinggi, yakni:
- JPL 289 & JPL 299: Berada di petak jalan Stasiun Papar – Stasiun Purwoasri.
- JPL 301: Berada di petak jalan Stasiun Purwoasri – Stasiun Kertosono.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri, Nizam Subekhi, menegaskan bahwa transformasi ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang daerah. Saat ini, pihaknya telah mengoperasikan 12 titik JPL dan berencana melakukan peningkatan kapasitas serta keamanan sepanjang tahun ini.
”Kami berkomitmen penuh menjaga keselamatan. Rencana mengubah beberapa JPL menjadi tidak sebidang (underpass) adalah langkah yang inline dengan visi keselamatan transportasi kami,” ujar Nizam.
Respon BTP Surabaya: Idealnya Semua Tidak Sebidang
Gayung bersambut, Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif proaktif Pemkab Kediri. Menurutnya, standar keselamatan perkeretaapian yang paling ideal adalah meniadakan perlintasan sebidang demi menghindari human error maupun kecelakaan teknis.
”Ini sangat baik, namun tentu memerlukan kajian yang komprehensif. Tidak hanya untuk Kediri, tetapi sebagai pilot project bagi daerah lain,” jelas Denny.
Penguatan Sosialisasi dan Keamanan Petugas
Sembari menunggu proses administrasi dan pembangunan fisik underpass berjalan, BTP Surabaya menekankan pentingnya menjaga standar keamanan di titik-titik yang ada saat ini. Denny berpesan agar pengawasan di lapangan tetap diperketat.
Selain melakukan shifting atau pengaturan jadwal pegawai Penjaga Jalan Lintasan (PJL), penguatan sosialisasi kepada masyarakat menjadi kunci utama.
”Kami ingin agar sosialisasi keselamatan terus masif dilakukan. Masyarakat harus tetap berhati-hati saat melintas, sembari kita menunggu progres pembangunan underpass ini rampung,” tutup Denny. (das)










