Harga Ayam di Kediri “Terbang”, Pedagang dan UMKM Mulai Kembang Kempis

oleh -
oleh

​Kediri, ArahJatim.com – Pekan ini, riuh rendah Pasar Pahing Kota Kediri tak hanya diisi suara tawar-menawar, tapi juga keluh kesah. Harga daging ayam potong yang terus merangkak naik dalam satu minggu terakhir mulai mencekik kantong konsumen dan memangkas pendapatan para pedagang secara drastis.

​Dari Rp32 Ribu ke Rp34 Ribu: Lonjakan yang Meresahkan

​Pantauan di lapangan menunjukkan tren kenaikan yang terjadi secara bertahap. Semula, harga daging ayam masih bertengger di angka Rp32.000 per kilogram. Namun kini, masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam karena harga telah menembus Rp34.000 per kilogram.

​Rosmini, salah satu pedagang di Pasar Pahing, membeberkan dua biang kerok utama di balik fenomena ini:

pasang iklan_rev3
  1. Harga Pakan yang Melambung: Biaya operasional di tingkat peternak yang naik otomatis mendongkrak harga di pasar.
  2. Efek Program MBG: Dimulainya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditengarai ikut meningkatkan permintaan pasar secara masif, sehingga ketersediaan stok bagi pengecer menjadi lebih menantang.

​Omzet Terjun Bebas 50 Persen

​Kenaikan harga ini bak buah simalakama bagi pedagang. Volume penjualan Rosmini merosot tajam. Jika biasanya ia mampu melepas 40 kilogram ayam sehari, kini ia hanya bisa menjual sekitar 20 hingga 25 kilogram saja.

​Selain faktor harga, Rosmini menyoroti lesunya pasar tradisional akibat:

  • Persaingan di Pinggir Jalan: Banyak kios pemotongan ayam yang kini “jemput bola” dengan berjualan di area desa, mengurangi arus pembeli ke pasar induk.
  • Efek Pasca-Libur: Masyarakat cenderung mengerem pengeluaran setelah belanja besar di masa libur panjang.

​Jeritan UMKM: Dilema Harga Nasi Goreng

​Dampak kenaikan ini menjalar hingga ke sektor UMKM. Hasan, penjual nasi goreng di Ngronggo, mengaku berada dalam posisi sulit.

“Semua lauk pauk naik serentak. Mau menaikkan harga nasi goreng, takut pembeli lari. Tapi kalau harga tetap, untungnya habis dimakan modal,” keluh Hasan.

​Kondisi serupa dirasakan Dhalia, seorang ibu rumah tangga. Baginya, daging ayam bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan pokok keluarga. Namun, saat ayam mahal, alternatif lain seperti telur dan ikan ternyata setali tiga uang, semuanya ikut melonjak.

​Menanti Intervensi Pemerintah

​Kini, harapan tertuju pada Pemerintah Kota Kediri. Para pedagang dan pelaku usaha kecil sangat berharap adanya langkah taktis, seperti operasi pasar atau pengawasan rantai distribusi, untuk menstabilkan harga.

​Tanpa intervensi segera, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan semakin terpuruk dan kerugian sektor usaha kecil akan semakin membengkak. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.