Kediri, Arahjatim.com– Ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) rupanya belum sepenuhnya sirna dari wilayah Kabupaten Kediri. Memasuki awal tahun 2026, para peternak sapi diminta untuk kembali meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan data terbaru hingga 12 Januari 2026, tercatat sebanyak 48 kasus PMK ditemukan di wilayah tersebut, dengan satu ekor sapi dilaporkan mati di Kecamatan Tarokan.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menegaskan bahwa meski kondisinya tidak separah wabah besar pada tahun 2022 lalu, virus ini tetap menjadi ancaman nyata bagi ekonomi lokal.
”Kasus PMK memang masih ada. Hal ini menunjukkan virus tetap bertahan di lingkungan dan pergerakan ternak perlu diawasi dengan serius,” ujar Tutik pada Kamis (15/1/2026).
Mobilitas Sapi Potong Jadi Pemicu Utama Penularan
Tutik menjelaskan bahwa sifat virus PMK yang sangat menular dipadukan dengan tingginya mobilitas sapi potong menjadi faktor utama penyebaran. Berbeda dengan sapi perah yang cenderung menetap di kandang, sapi potong sering berpindah dari satu pasar hewan ke pasar lainnya, bahkan hingga lintas wilayah.
Kondisi ini diperparah dengan mulai menurunnya tingkat kesadaran vaksinasi di tingkat peternak. Banyak peternak yang merasa kondisi sudah aman sehingga melalaikan prosedur vaksinasi rutin maupun booster.
Strategi DKPP Kediri Tekan Penyebaran PMK
Menyikapi temuan kasus di Kecamatan Tarokan dan Wates, DKPP Kabupaten Kediri bersama Balai Besar Veteriner (BBVET) Kementerian Pertanian langsung melakukan langkah cepat. Berikut adalah strategi utama yang dijalankan:
- Surveillance Terpadu: Pengambilan sampel darah secara rutin pada sapi sakit maupun sehat sebagai pembanding untuk memantau efektivitas vaksin.
- Vaksinasi Masif: Mendorong kembali program vaksinasi dosis utama dan booster guna memperkuat imunitas ternak.
- Sterilisasi Pasar Hewan: Pengetatan pengawasan di pasar-pasar, termasuk penyemprotan disinfektan pada alas kandang dan truk pengangkut ternak.
- Edukasi Peternak: Menghimbau peternak agar jujur dan tidak menjual sapi dalam kondisi sakit demi memutus rantai penularan.
Monitoring Langsung dari Kementerian Pertanian
Dukungan penuh juga datang dari pusat. Pada Rabu (14/1/2026), tim BBVET yang dipimpin oleh Drh. Sapto melakukan monitoring langsung di Kecamatan Wates, wilayah yang sebelumnya melaporkan 27 kasus. Tim melakukan pengecekan kondisi fisik ternak dan mengevaluasi sejauh mana kekebalan kelompok (herd immunity) telah terbentuk.
”Kami mengingatkan peternak bahwa kekebalan sapi bisa menurun seiring waktu. Vaksin booster sangat krusial, terutama saat memasuki musim pancaroba atau ketika sapi akan dipindahkan tempatnya,” tambah Tutik.
Tips bagi Peternak untuk Mencegah PMKPemerintah mengimbau para peternak untuk menerapkan langkah-langkah mandiri berikut:
- Selalu menjaga kebersihan kandang dan alat transportasi.
- Segera melapor ke petugas kesehatan hewan jika ditemukan gejala luka pada mulut atau kuku sapi.
- Jangan memasukkan ternak baru ke kandang tanpa melalui proses karantina.
- Pastikan jadwal vaksinasi sapi tepat waktu.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan kesadaran tinggi dari para peternak, diharapkan Kabupaten Kediri dapat segera kembali ke zona hijau dan melindungi aset ekonomi masyarakat di sektor peternakan. (das)










