Kediri, ArahJatim.com – Suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri berubah drastis memasuki awal bulan suci Ramadhan. Masjid At-Taubah yang berada di dalam kompleks Lapas kini menjadi saksi bisu transformasi spiritual para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Tak sekadar menjalankan kewajiban, Ramadhan tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam melalui berbagai program unggulan.
Kemandirian Spiritual Melalui ‘One Day One Juz’
Salah satu program yang mencuri perhatian adalah One Day One Juz. Berbeda dengan tadarus massal pada umumnya, program ini ditekankan pada kemandirian santri Pondok At-Taubah. Setiap santri diberikan keleluasaan untuk mengatur waktu dan ritme bacaannya sendiri, namun tetap berkomitmen menyelesaikan satu juz Al-Qur’an per hari.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Dengan membaca secara mandiri di sela-sela aktivitas terjadwal, para warga binaan dilatih untuk memiliki kedisiplinan diri dan manajemen waktu yang baik. Tujuannya jelas: menumbuhkan kesadaran ibadah yang muncul dari dalam hati, bukan karena paksaan atau pengawasan petugas.
Sinergi Warga Binaan: Yang Mampu Mengajar yang Belum Bisa
Selain fokus pada bacaan pribadi, Lapas Kediri juga mengedepankan prinsip peer-to-peer learning. Warga binaan yang telah memiliki sertifikat guru ngaji diberikan amanah untuk membimbing rekan-rekan mereka yang masih dalam tahap belajar.
Suasana belajar mengaji ini berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Hal ini menciptakan ekosistem sosial yang positif di dalam Lapas, di mana mereka saling mendukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Interaksi ini perlahan menghapus sekat dan menggantinya dengan semangat kebersamaan dalam kebaikan.
Titik Balik dan Ruang Refleksi Diri
Bagi para warga binaan, Ramadhan adalah waktu untuk “berhenti sejenak” dan menengok ke belakang. Seorang warga binaan berinisial G menuturkan bahwa rutinitas membaca Al-Qur’an membuatnya jauh lebih tenang.
”Melalui program One Day One Juz, pikiran saya lebih tertata. Saya mulai bisa menerima perjalanan hidup ini dan mengevaluasi keputusan masa lalu. Ini adalah titik balik saya,” ungkap G dengan tulus.
Komitmen Lapas Kediri dalam Pembinaan Bermakna
Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Solichin, menegaskan bahwa pendekatan pembinaan selama Ramadhan memang diarahkan pada aspek refleksi pribadi. Menurutnya, perubahan perilaku yang permanen hanya bisa terjadi jika didasari oleh kesadaran spiritual yang kuat.
”Kami ingin menghadirkan pembinaan yang lebih bermakna. Tidak hanya rutinitas fisik, tetapi bagaimana mereka membangun pengendalian diri dan tanggung jawab. Perubahan yang bertahan lama selalu berangkat dari dalam diri,” ujar Solichin.
Melalui perpaduan disiplin, kemandirian, dan bimbingan spiritual, Lapas Kelas IIA Kediri berharap para warga binaan dapat keluar sebagai sosok yang baru—siap kembali ke masyarakat dengan mentalitas yang lebih tangguh dan religius.











