Spesial, Banyuwangi Education Award Dihadiri Stafsus Milenial Jokowi

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49222799171_6e2d6ba6d9_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Ajang penganugerahan bagi para penggiat pendidikan di Banyuwangi berlangsung spesial. Ajang bertajuk Banyuwangi Education Award itu, dihadiri oleh Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia dan ratusan pelajar penyandang disabilitas. Mereka sharing bareng di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Minggu (15/12/2019).

Angkie yang juga penyandang disabilitas tersebut, berbagi pengalaman tentang pentingnya pendidikan inklusi. Menurutnya, keterbatasan yang disandang anak berkebutuhan khusus bukanlah penghalang. Jika diberikan kesempatan, mereka juga mampu mengembangkan wawasan dan karir profesionalnya.

“Presiden Jokowi telah memberi ruang besar. Saya sebagai disabilitas kini bisa duduk di sebelah mendampingi Presiden. Saatnya kita semua berkarya karena ruang telah terbuka lebar,” ujar Angkie menyemangati hadirin.

Disampaikan Angkie, sebagai salah satu staf khusus, dia menyampaikan kepada presiden untuk melakukan inovasi dengan mendirikan unit layanan disabilitas. Dengan unit layanan disabilitas tersebut, lanjut Angkie, akan memberikan layanan nyata yang terintegrasi.

“Ke depan, disabilitas tidak hanya menjadi domain Kementerian Sosial. Tapi, juga menjadi tanggung jawab semua kementerian. Tak terkecuali Kementerian Pendidikan untuk terus mewujudkan sekolah inklusi,” papar founder Thisability Enterprise itu.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang turut serta dalam acara tersebut, juga menegaskan komitmen Pemda Banyuwangi untuk mewujudkan Kabupaten Inklusi. Salah satunya dengan terus meningkatkan jumlah sekolah inklusi yang ramah bagi penyandang disabilitas.

“Di Banyuwangi, para pelajar yang berkebutuhan khusus, tidak harus sekolah di SLB. Namun, saat ini kita terus mewujudkan sekolah inklusi yang bisa menerima anak-anak tersebut,” ungkap Anas.

Baca juga:

Sejak 2014, Pemda Banyuwangi telah meluncurkan program “Agage Pintar” untuk mendorong sekolah inklusi. Saat ini, tak kurang dari 217 sekolah di Banyuwangi yang berstatus inklusi.

“Kami juga sedang mempersiapkan anggaran untuk pendidikan keterampilan bagi para penyandang disabilitas. Sehingga mereka memiliki keterampilan untuk bisa diterima di dunia kerja,” imbuhnya.

Tak sampai di situ saja, Banyuwangi juga sedang merancang destinasi wisata yang ramah bagi disabilitas. “Kita sedang menyiapkan tempat khusus, sekaligus juga memastikan ke sejumlah tempat wisata di Banyuwangi untuk dilengkapi pula dengan beragam fasilitas yang cukup memudahkan bagi mereka,” papar Anas.

Komitmen Pemda Banyuwangi dalam memberikan perhatian terhadap disabilitas diamini oleh Ketua Yayasan Kesejahteraan dan Pendidikan Tuna Indera Indonesia (YKPTI) Banyuwangi Dani Azwar Anas.

“Selama ini perhatian pemerintah cukup tinggi. Berbagai even juga diselenggarakan untuk memberi ruang bagi para disabilitas. Kami akui PR kami masih banyak, namun akan terus kami upaya tingkatkan seperti layanan unit disabilitas seperti yang diwacanakan mbak Angkie tadi,” kata Dani.

Sementara itu, Banyuwangi Education Award sendiri memberikan penghargaan kepada sejumlah pegiat pendidikan dalam berbagai kategori. Mulai dari lembaga pendidikan berdedikasi, sahabat diknas, pendidik berprestasi, hingga penggiat pendidikan yang memiliki dedikasi sosial yang tinggi. (adv.hmsbwi/ful)