Surabaya, ArahJatim.com – Kasus perundungan terhadap anak selama masa pandemi meningkat, oleh karena itu perlindungan berhak diperoleh anak-anak guna menghindari bulying itu sendiri.
Unicef Indonesia Child Protection Specialist Naning Puji Julianingsih mengatakan, kasus bulying yang selama ini meresahkan sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal. Dimana terdapat beberapa program yang harus dijalankan.
“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat luas, pemerhati pendidikan, orang tua, dan para siswa, bahwa sesungguhnya bulying itu bisa dicegah dengan program pencegahan, dimana yang menjadi aktor utama sendiri ialah para siswa sebagai agen perubahan,” ujarnya seusai mengikuti program Roots Indonesia 2021 di Surabaya, Jumat (11/12).
Perundungan ini, lanjut Naning, banyak terjadi di lingkungan sekolah. Dalam hal ini sekolah menjadi fokus utama lantaran sering terjadinya bulying dikarenakan tanpa pengawasan.
Maka dari itu, ia menganggap usaha dari Kementerian Pendidikan untuk mensukseskan program roots harus didukung dengan sepenuhnya.
“Selama ini pencegahan bulying di lingkungan sekolah, Unicef mendukung kementerian pendidikan, bahwa itu harus masuk ke dalam sebuah sistem,” katanya.
Naning menenkankan, keefektifan programm Roots bukan hanya sekedar sosialisasi, melainkam adanya tindakan nyata yang terus menerus dilakukan.
“Karena ini bagian dari pola fikir perilaku yang dapat dirubah,” imbuhnya.

Pencegahan bulying itu sendiri bukan hanya soal aturan, tapi perubahan perilaku secara sistematis yang dilakukan secara terus menerus. Untuk merubah itu harus ada langkah aksi, dengan cara melatih fasilitator, kemudian dari fasilitator itu dapat memberikan pengertian kepada agen-agen perubahan itu sendiri.
Di sisi lain peran orang tua menjadi sangat vital, karena berhubungan lebih banyak dengan anak.
“Tingkah laku orang tua nantinya akan ditiru oleh anaknya. Entah itu korban atau pelaku bulying itu sendiri,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Plato Foundation, Dita Amalia mengutarakan selama ini selain melakukan sosialisasi mengenai program Roots itu sendiri, pihaknya juga menekankan aksi nyata yang harus terus dilakukan oleh agen-agen perubahan. Tujuannya guna membangun iklim positif di sekolah melalui peram aktif agen perubahan.
“Jadi, mereka yang membangun interaksi positif, untuk bersama-sama mencegah perundungan di sekolah,” ungkapnya.
Dita menjelaskan, selama ini angka perundungan di tingkat pelajar masih sangat tinggi.
“Jadi hasil polling yang sudah kita dilakukan pada agen perubahan yaitu remaja yang ada di sekolah penggerak di enam provinsi, yaitu di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, banten, DKI Jakarta dan Jogjakarta itu ternyata sebesar 77,4% terjadi perundungan di sekolah mereka,” bebernya.
Dita memaparkan bahwa temuan lainnya, di era pandemi ini perundungan lewat media sosial marak terjadi. “Yang paling banyak, karena pandemi kita menemukan 33% dalam bentuk cyberbullying melalui media sosial dan 31% bullying verbal dan itu menyakiti para korban,” pungkasnya.










