Serunya Tradisi Kebo-Keboan, Akhiri Lebaran Di Kelurahan Boyolangu

by -
https://live.staticflickr.com/65535/48058152226_069b6a24cd_b.jpg
Untuk mengenang jasa leluhur yang pertama kali membuka lahan pertanian di Boyolangu, warga Desa Boyolangu, Kecamatan Giri, menggelar tradisi Kebo-Keboan yang rutin digelar setiap tanggal 9 Syawal. Replika dua kepala kerbau diarak keliling kampung mulai dari perbatasan hingga pusat desa. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Untuk mengakhiri Lebaran atau Syawalan, masyarakat kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi menggelar tradisi unik, yaitu Kebo-keboan. Ritual yang digelar setiap tanggal 9 Syawal dalam kalender Islam, tersebut berlangsung meriah.

Sebelum tradisi dimulai, warga melakukan prosesi ritual terlebih dahulu di sebuah makam yang dianggapnya sebagai leluhur mereka. Warga membawa replika kepala kerbau untuk diletakan di atas makam Buyut Kapluk yang diyakini sebagai putra Buyut Jakso yang telah berhasil membuka lahan pertanian di Boyolangu untuk pertama kalinya.

Setelah itu, replika dua kepala kerbau dipasang pada kepala dua orang sebagai pemeran kebo-keboan untuk diarak keliling kampung beserta ratusan warga lainya. Arak-arakan dimulai dari perbatasan hingga pusat desa.

Dua pemeran kebo-keboaan tampak kegirangan saat terkena percikan air. Selain itu, di setiap perempatan kampung, dua kerbau jadi-jadian tersebut berhenti dan memutar-memutar layaknya kerbau sungguhan yang sedang membajak sawah.

Warga yang mengikuti arak-arakan pun tak segan menggoda dua kerbau jadi-jadian tersebut dengan menyiramkan air. Perang air antarwarga dan kerbau jadi-jadian pun tak terhindarkan. Meski harus berbasah-basahan, warga tampak antusias mengikuti tradisi hingga usai.

Warga yang mengikuti arak-arakan tak segan menggoda dua kerbau jadi-jadian dengan menyiramkan air. (Foto: arahjatim.com/ful)

Menurut cerita warga setempat, tradisi digelar untuk menghargai perjuangan leluhur mereka yang berjasa besar bagi warga. Kampung setempat yang dulunya hutan belantara kini dimukimi warga dan juga bisa dijadikan lahan pertanian yang subur. Sedangkan, air yang merupakan simbol dari kehidupan tersebut diharapkan mampu membawa berkah bagi masyarakat setelah tradisi digelar.

”Ini untuk mengenang leluhur kami sekaligus untuk silaturahmi warga Boyolangu khususnya bagi para pemuda. Trdisi ini digelar setiap tanggal 9 syawal. Kenapa kerbau yang dijadikan simbol, karena kerbau dulu digunakan oleh buyut kami untuk membuka lahan pertanian di Boyolangu pertama kali. Maka dari itu kita nguri-nguri tradisi agar kita tak melupakan sejarah,” kata Dharma, Ketua Pemuda Boyolangu.

Dalam iring-iringan arak-arakan juga diikuti beberapa kesenian tradisional khas warga Using. Tradisi yang dikemas dalam suasana suka cita tersebut diharapkan mampu menjadi ajang silaturahmi antar warga agar tetap kompak dalam membangun desa, sekaligus sebagai sarana warga agar tidak melupakan jasa leluhur mereka di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. (ful)