Tulungagung, ArahJatim.com – Suasana gembira terlihat pada upacara pelepasan kontingen Kabupaten Tulungagung, di Porprov Jatim VII bertempat di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso, Selasa (14/6/2022).
Agenda yang diadakan di Kabupaten Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo itu ternyata KONI Tulungagung tidak menyertakan cabor sepak bola yang menjadi gengsi daerah.
Dalam laporan ketua panitia, ternyata tidak menyebutkan cabor sepak bola ikut dalam ivent olah raga bergengsi tingkat propinsi tersebut. Bahkan sampai tim diberangkatpun , tidak banyak media yang menanyakan mengapa sepak bola tidak diberangkatkan.
Dalam kesempatan tersebut, ArahJatim.com mempertanyakan kepada ketua KONI Tulungagung, Suwarsono. Dalam keteranganya, diakui, untuk Porprov tahun ini , pihaknya menggunakan misi prioritas. Yang dimaksud Missi prioritas, Dalam pengiriman cabor, harus melihat sudah berprestasi medali atau belum. Kalau belum maka konsentrasi pendanaan akan di maksimalkan kepada cabor yang memiliki kans untuk mendapatkan kejuaraan. Hal ini termasuk cabor sepak bola yang selama ini tidak menunjukkan prestasi.
” Seleksi awal untuk porprov tahun ini adalah menunjukkan prestasi resmi di Kejurprov. Ketika cabor tanpa ada prestasi di Kejurprov cabor tersebut otomatis tidak kami dikirim. Cabor sepak bola memang tidak ada kejuaran di Kejurprov dan tidak ada bukti prestasi kejuaraannya. Bahkan kegiatan kompetisi sepak bola selama ini bisa dibilang vakum. KONI Tulungagung juga sudah melakukan push ke semua cabor. Hal ini sebagai upaya semua cabor bisa ikut bertanding. Sekali lagi, kita tidak mengirim, karena pedoman kita adalah harus mempunyai medali di Kejurprov dan sepak bola Tulungagung tidak ada,” ungkap ketua KONI di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso, Selasa (14/6/2022) .
Sementara, Ketua Pengcab PSSI Tulungagung Ahmad Baharudin di kantornya, Kamis (16/6/2022) ketika dikonfirmasi membenarkan, tahun ini sepak bola Tulungagung, tidak diikutkan ke Porprov, karena keminiman anggaran.
” Minimnya anggaran seharusnya tidak boleh dijadikan sebuah alasan, karena jika jauh-jauh hari disosialisasikan maka para cabor bisa mencari sponsor atau sumber anggaran yang lainnya. Ada informasi,kami baru terima sebulan lalu. Hal ini terus terang tidak baik untuk perkembangan dan pembinaan. Terus terang masyarakat sepak bola Tulungagung kecewa dengan hal ini”, ungkap pria yang kebetulan sebagai wakil ketua DPRD ini.
Ketika ditanyakan apa benar sepak bola Tulungagung itu tidak memiliki prestasi, pihaknya menjawap diplomatis, di organisasi yang di ketuainya itu secara program, sudah berjalan baik.
” Sebenarnya minim anggaran kalau disosialisasikan jauh-jauh hari kan bukan menjadi masalah. Karena cabor bisa mencari sponsor atau bagaimana. Tidak begini caranya”, tambah Baharudin.
Seperti saat wawancara di pendopo, usai pelepasan oleh bupati, ketua KONI Tulungagung, Suwarsono, ketika ditanyakan, sebenarnya ada apa dengan persepakbolaan di Tulungagung, sambil bergegas bilang, ” yaah sampeyan tahu sendirilah……”. (dni)











