Ritual Ulambana dan Tradisi Sembahyang Rebutan yang Menyimpan Cerita Haru
TULUNGAGUNG, ArahJatim.com — Ribuan warga memadati area Klenteng Tjoe Tik Kiong, Tulungagung, Jawa Timur. Mereka rela berdiri dalam antrean panjang selama berjam-jam demi mendapatkan paket bantuan sembako yang dibagikan pengurus klenteng dalam rangka ritual Sembahyang Rebutan atau Ulambana.
Suasana di lokasi berlangsung cukup riuh. Di antara ribuan orang yang berdesak-desakan, tak sedikit ibu-ibu yang nekat membawa balita dan anak kecil mereka. Alhasil, anak-anak tersebut sempat terjepit di tengah padatnya kerumunan warga yang khawatir tak kebagian bantuan.
Sigapnya Petugas Mengamankan Kerumunan
Melihat kondisi antrean yang semakin membludak, aparat kepolisian yang bersiaga di lokasi bertindak sigap. Petugas langsung mengatur alur antrean dan mengamankan jalur khusus untuk warga yang membawa anak-anak serta lansia.
Berkat ketanggapan petugas di lapangan, situasi panas dan berdesakan tersebut berhasil terkendali. Tidak ada laporan warga yang terinjak-injak maupun pingsan hingga seluruh proses pembagian selesai.
Tradisi Tahunan Setiap Bulan Tujuh Imlek
Pengurus Klenteng Tri Darma Tjoe Tik Kiong, Wibitono, menjelaskan bahwa Sembahyang Rebutan atau Pho Touw ini merupakan tradisi tahunan yang digelar setiap tanggal 15 bulan tujuh dalam penanggalan Imlek.
Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, ritual ibadah ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Tri Darma.
”Sembahyang ini digelar untuk mendoakan arwah para leluhur, serta mendoakan arwah-arwah yang sudah tidak memiliki keluarga lagi di dunia,” ujar Wibitono.
Ribuan Paket Sembako dari Uluran Tangan Umat
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menyiapkan sebanyak 3.500 paket sembako. Seluruh bantuan tersebut dihimpun murni dari sumbangan dan uluran tangan umat Klenteng Tjoe Tik Kiong. Setiap paket yang dibagikan berisi kebutuhan pokok harian, seperti:
- Beras
- Gula pasir
- Minyak goreng
- Mie instan
Tradisi ini tidak hanya menjadi wujud bakti spiritual kepada para leluhur, tetapi juga menjadi oase bantuan pangan bagi warga sekitar yang membutuhkan. Kebersamaan dan toleransi antarwarga pun terasa kuat di tengah riuhnya pembagian sembako tahunan ini.











