KH. Amongjiwo Pimpin Ritual Sakral, Termasuk Pusaka Museum Brawijaya
Batu, ArahJatim.com – Malam 1 Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, kembali menjadi momentum sakral di Padepokan Dzikir dan Ta’lim Bumiaji Panatagama, Kota Batu. Dipimpin oleh KH. Musyrifin Amongjiwo MM yang juga menyandang gelar KRHA. KH. Amongjiwo dari Keraton Kasunanan Surakarta ritual Jamasan Pusaka digelar selama dua hari penuh, sejak sore kemarin hingga malam ini (27/6/2025).
Sebanyak 474 keris, 88 pedang, 151 tombak, 122 trisula, 99 tongkat, hingga 300 lebih alat pertanian milik warga Kota Batu dijamas, ditayuh, dan disidikara dengan melibatkan 27 santri. Proses ini bukan hanya sekadar perawatan benda, tetapi juga bentuk pelestarian nilai spiritual dan budaya Jawa yang turun-temurun.
Pusaka dari Leluhur, Pusaka Negeri
KH. Amongjiwo sendiri dikenal sebagai penjamas ulung dengan koleksi pusaka pribadi yang tergolong langka dan sakral. Beberapa di antaranya:
Keris Kyai Sangkelat (Luk 13)
Keris Kyai Singo Barong Tinanding (Luk 13)
Keris Kyai Nogo Liong (Luk 13)
Keris Kyai Nogo Prarolo (Luk 27)
Keris Kyai Garudeya (Luk 23)
Keris Kyai Karno Tinanding (Luk 21)
Pedang Kyai Naga Pasha
Tombak Kyai Semar Kuncung
Tombak Kyai Mengantara, dan lainnya.
“Pusaka bukan hanya benda tajam. Ia punya jiwa, sejarah, dan tugas spiritual. Menjamas bukan hanya membersihkan secara fisik, tapi menyambungkan kembali energi leluhur,” tutur KH. Amongjiwo.
Museum Brawijaya pun Titipkan Pusaka
Tak hanya dari warga, Museum Brawijaya Malang pun setiap tahun menitipkan 11 pusaka koleksi mereka untuk dijamas di padepokan ini. Sebuah bentuk kepercayaan dan pengakuan atas kompetensi spiritual KH. Amongjiwo dalam merawat warisan budaya nasional.
“Ini ikhtiar kecil merawat kearifan lokal. Sekaligus perawatan berkala agar pusaka tetap terjaga estetikanya,” tambahnya.
Pusaka Petani Juga Dijamas
Uniknya, tak hanya keris dan tombak yang dijamas. Alat pertanian seperti sabit, cangkul, hingga mata garu pun ikut diruwat. “Karena dari sana hidup rakyat bermula. Alat tani juga pusaka,” ujar KH. Amongjiwo.
Ritual jamasan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan pameran budaya. Banyak kolektor yang sengaja membawa koleksi terbaiknya untuk dijamas dan didoakan, sekaligus menjaga sambungan spiritual antara manusia dan semesta.
“Bulan Suro itu sakral. Di budaya keraton, bulan ini jadi momentum pembersihan diri, pusaka, dan lingkungan. Kami hanya meneruskan apa yang diajarkan para leluhur,” pungkasnya. (das)











