
Banyuwangi, ArahJatim.com – Puluhan wali murid SMPN 2 Banyuwangi ramai-ramai mendatangi sekolah tempat anaknya menimba ilmu, Sabtu (23/3/2019). Mereka menuntut agar pihak sekolah segera mengatasi jam pelajaran yang sejak dua bulan terakhir sering kosong tanpa didampingi guru pengajar.
Selain itu wali murid juga menanyakan perihal anaknya yang pulang lebih awal dan keluyuran keluar kelas lantaran tidak mendapatkan pelajaran di sekolah dengan alasan guru pengajar sedang ada tugas di luar sekolah. Sehingga target pendidikan yang diatur kurikulum menjadi kurang maksimal.
Menurut Sekretaris Komite SMPN 2 Banyuwangi, Lisa Indriyani, pada 16 Maret 2019, pihak komite pernah diundang Paguyuban Wali Murid untuk membahas masalah tersebut. Sebab dalam sepekan hampir tiap hari terdapat jam kosong.
 Baca juga:
- Di Banyuwangi, Ribuan Pelajar Ini Dikucuri Tabungan Miliaran Rupiah.
- Serunya Festival Band Pelajar Banyuwangi.
- Pelajar SMPN 3 Pare Raih Juara Olimpade Penelitian Siswa Nasional.
“Di Kelas VII ada guru yang ngisi absensi tapi tidak masuk kelas. Ada pula oknum guru yang tidak pernah hadir melakukan KBM. Imbasnya banyak murid berkeliaran di sekitar sekolah ketika jam kosong,” ujar Lisa Indriyani wali murid Kelas IX.
Lisa juga menambahkan, dalam pertemuan tersebut, Paguyuban Wali Murid SMPN 2 Banyuwangi meminta jam kosong segera bisa diatasi agar para murid bisa mendapatkan mata pelajaran. Mereka bahkan meminta kepastian kehadiran kepala sekolah yang memasuki masa persiapan pensiun.
“Jam kosong berlangsung sejak Januari-Maret 2019. Namun tidak tiap hari, awal semester dan akhir Maret. Jam kosong terjadi lantaran tiga guru pensiun, tiga menjadi aparatur sipil negara (ASN). Sementara pihak sekolah hanya diberi kewenangan untuk mengangkat tiga guru honorer,” jelas Lisa pascapertemuan.

Kepala Sekolah SMPN 2 Banyuwangi, Subiantoro, menampik adanya jam kosong di sekolahnya. Meski tidak ada guru pengajar para siswa diberi tugas supaya dikerjakan di sekolah. Langkah jangka pendek yang ditempuh dengan cara memaksimalkan guru yang ada. Subiantoro mengakui bahwa di sekolahnya memang kekurangan tenaga pendidik sehingga ada pengajar yang tugasnya berlipat.
“Guru berhalangan karena ada tugas luar. Terus ada 4 guru pensiun serta tiga guru honorer yang diangkat di sekolah lain. Guru kesenian mengajar 16 jam. Kalau ditinggal ke Surabaya tentu harus kehilangan jam itu,” tepis Subiantoro.
Sementara itu masalah kekurangan guru ini sudah dilaporkan di Dinas Pendidikan sejak beberapa bulan lalu. Namun persoalan tersebut masih belum mendapatkan perhatian dari Dinas pendidikan setempat. Bahkan persoalan serupa juga banyak terjadi di beberapa sekolah SMP lain. (ful)











