Pamekasan, ArahJatim.com – Paguyuban Insan Jurnalis Pamekasan (PIJP) dan Gerakan Emansipasi Masyarakat (GEMA) Senin (14/12/2020) menggelar acara bakti sosial khitanan massal dan santunan anak yatim. Acara digelar di Desa Durbuk, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan dengan menggandeng Puskesmas Sopa’ah dan Pemerintah Desa Durbuk.
Dalam sambutannya, Ketua PIJP, Sujak Lukman berharap kegiatan ini dapat meringankan beban hidup masyarakat Desa Durbuk. Pihaknya berjanji akan menggelar kegiatan ini secara rutin setiap tahun.
“Semoga acara ini dapat meringankan beban hidup masyarakat Desa Durbuk di masa pandemi covid-19 ini. Kami juga bagikan doorprize gratis bagi 50 anak yang beruntung. Semoga aksi sosial ini bisa digelar rutin setiap tahun,” ujar Sujak Lukman.
Senada dengan Ketua PIJP, di tempat yang sama, Ketua GEMA Pamekasan, Wiwin juga berharap program ini bermanfaat bagi masyarakat terutama warga kurang mampu.
“Kami berharap program ini bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama warga kurang mampu. Semoga tahun depan lebih banyak lagi masyarakat yang terbantu dan anak-anak yatim yang tersantuni. Kegiatan ini yang substansinya, kami ingin mengantarkan anak-anak yang saleh, mereka sudah suci secara lahir dan batin untuk bisa mempelajari syarat Islam lainnya,” ujar Wiwin.
Sementara itu, Camat Pademawu, Ach Farid diwakili Plt Sekcam, Rachmad mengucapkan terima kasih dan apresiasinya kepada PIJP, GEMA ,UPT Puskesmas Sopa’ah dan Pemdes Durbuk atas terlaksananya kegiatan sosial ini. Menurut Farid, kegiatan ini sangat membantu masyarakat kurang mampu terutama warga yang anaknya belum dikhitan.
Sedangkan Kepala UPT Puskesmas Sopa’ah, Ambarwati menegaskan, dalam pelaksanaan kegiatan ini pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan. Pihaknya mewajibkan seluruh tenaga medis yang terlibat mengenakan APD level 2 dan semua peserta wajib memakai masker.
“Untuk kegiatan ini pihaknya tetap menerapkan Protokol kesehatan seperti untuk tenaga medis kita selalu pakai APD level 2. Semua peserta wajib memakai masker, selalu membiasakan diri mencuci tangan, dan tidak berkerumun. Pelaksanaan tindakan tidak dilakukan di satu tempat, harus terpisah,” imbuhnya. (ndra)










