Banyuwangi, ArahJatim.com – Ratusan perantau asal kepulauan kecil di sekitar Madura berbondong-bondong menuju kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Wangi, Minggu (26/6/2019) sore. Meski pemerintah sudah menyediakan kapal gratis pada tanggal 30 Mei mendatang, namun tak menyurutkan niat pemudik untuk pulang kampung lebih awal.
Sekitar 400 pemudik berdesakan untuk bisa segera masuk ke dalam kapal perintis Sabuk Nusantara 92 yang akan membawa mereka pulang kampung ke Pulau Sapeken, dan beberepa pulau kecil di Madura.
Para pemudik memilih pulang lebih awal karena jadwal keberangkatan kapal menuju Sapeken tidak setiap hari ada. Mereka takut tak bisa pulang kampung lantaran kehabisan tiket jika pulang mudik mendekati hari raya Idul Fitri mendatang.
Sebab diprediksi, ribuan pemudik dari Pulau Sapeken dan beberapa pulau kecil di Madura akan terus mengalir dari berbagai daerah untuk pulang kampung melalui Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi.
”Di belakang saya ini pasti masih banyak yang akan pulang kampung ke Sapeken, dari pada nggak dapat tiket saya pilih mudik lebih awal,” kata Muhammad Abdu, warga kepulauan Sapeken yang bekerja di Bali.
Sekedar diketahui, kapal Sabuk Nusantara 92 merupakan kapal perintis bersubsidi yang disediakan pemerintah. Kapal tersebut hanya melayani rute pelayaran Banyuwangi–Sapeken dua kali dalam seminggu, dengan jarak tempuh hampir 12 jam. Pada moment arus mudik lebaran, pemudik hanya dikenakan tiket seharga Rp 14 ribu per orang.
Selain harga tiket yang murah, jalur pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Wangi jadi pilihan karena dirasa paling dekat dibandingkan jalur pelayaran dari Pelabuhan Jangkar Situbondo maupun melalui Pulau Madura itu sendiri.
“Mayoritas, pemudik adalah perantau yang bekerja di Pulau Bali, Lombok, hingga Jakarta. Hampir semua masyarakat Sepudi maupun Sapeken itu pernah merantau,” tambah Abdu
Sementara itu, saat kapal akan berangkat sempat diwarnai aksi protes dari beberapa pemudik yang tidak kebagian tiket. Mereka memaksa petugas KSOP Tanjung Wangi agar tetap membolehkan mereka masuk ke dalam kapal.
Namun tidak diperbolehkan petugas karena menyangkut keselamatan. Akibatnya keberangkatan kapal sempat tertunda beberapa menit akibat aksi protes dari pemudik ini.
”Kuotanya dibatasi hanya 400 orang saja, padahal yang mengantre masih banyak. Terpaksa saya harus menunggu sampai tanggal 30 Mei,” kata Sulaiman pemudik asal Sepekan.
Korlap Embarkasi KSOP Tanjung Wangi, Ade Sucipto memaklumi pihak yang melakukan protes. Meski begitu, pihaknya berharap para pemudik bisa mengerti adanya pembatasan penumpang demi keselamatan selama berlayar.

”Kapasitas hanya 400 orang. Tidak boleh melebihi demi keselamatan. Lebih baik bersabar dulu tunggu jadwal selanjutnya. Atau kalau mau pesan tiket jauh-jauh hari. Jangan sekarang berangkat, sekarang baru beli,” kata Ade.
Sementara itu bagi pemudik yang kehabisan tiket bisa menunggu jadwal keberangkatan kapal selanjutnya di tempat yang sudah disedikan di sekitar pelabuhan. Dijadwalkan ada dua kapal reguler akan berlayar ke pulau Sapeken pada tanggal 30 mei mendatang. Yakni kapal Sabuk Nusantara 115 dan kapal Sabuk Nusantara 56. Masing-masing kapal berkapasitas 400 penumpang.
”Pada hari yang sama, kapal gratis juga akan diberangkatkan, namun kapal kapasitasnya hanya 200 penumpang. Jadi ada tiga kapal yang berlayar untuk pemudik ke Sapeken nanti,” pungkas Ade. (ful).












