Pemain Sepak Bola Ini Dikeroyok Supporter, Apa Penyebabnya?

by -
https://live.staticflickr.com/65535/48756302123_b97ed6718e_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Seorang pemain sepak bola babak belur dikeroyok sekelompok supporter yang beringas merangsek masuk ke dalam lapangan pada turnamen sepak bola antarkampung (Tarkam) di Lapangan Maron, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Selasa (18/9/2019) kemarin. Aksi main hakim sendiri supporter tersebut terjadi lantaran tak terima saat korban (pemain) melakukan pelanggaran kepada salah satu pemain tim yang didukung kelompok supporter tersebut.

Akibat aksi brutal tersebut korban mengalami luka lebam di kepala hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak di hidungnya. Kini kasusnya langsung dilaporkan korban kepada pihak kepolisian Polsek Genteng, Rabu (18/9/2019) sore.

Aksi main hakim sendiri oleh sekelompok supporter itu terjadi di tengah-tengah pertandingan antara kesebelasan Bintang Taruna Purwoharjo melawan Arseka Kembiritan. Awalnya Billy Syahbana, 21 tahun, pemain Bintang Taruna Purwoharjo berebut bola dengan pemain dari Arseka Kembiritan. Saat rebutan bola inilah, salah satu pemain dari Arseka Kembiritan yang bernama David Arisma, 30 tahun terjatuh di lapangan hingga mengalami patah tulang bahu kanan.

Merasa tak terima pemain tim dukungannya dilanggar, sekelompok supporter yang tak bertanggung jawab tersebut langsung mengeroyok Billy Syahbana.

“Setelah pelanggaran itu saya langsung dikeroyok penonton. Saya mencoba melawan dan menghindar tapi jumlah mereka lebih banyak dan saya tak bisa berbuat apa-apa,” kata Billy saat diperiksa di Mapolsek Genteng, Rabu sore.

Pihak Polsek Genteng yang menangani kasus tersebut langsung mengundanghadirkan pihak penyelenggara turnamen sepak bola dan klub untuk melakukan mediasi agar persoalan tidak berlanjut ke ranah hukum. Dari hasil mediasi yang dilakukan terjadi kesepatan bahwa untuk biaya perawatan korban ditanggung sepenuhnya oleh panitia.

“Mudah-mudahan ini tidak terjadi lagi. Kita akan berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan turnamen sampai selesai. Untuk kejadian ini kami memohon maaf, itu di luar kendali karena kejadiannya sangat cepat,” kata Eko Priyono, salah satu panitia turnamen

Kapolsek Genteng, Kompol Samsodin yang menengahi mediasi berharap agar panitia lebih memperhatikan lagi keselamatan pemain agar turnamen sepak bola yang seharusnyaa menjadi ajang pencariaan bibit atlet sepak bola tersebut terhindar dari tindakan-tindakan anarkis.

Menanggapi kasus ini pihak kepolisian tetap akan memberikan izin kepada penyelenggara untuk menyelesaikan turnamen dengan catatan jika nanti kembali terulang aksi pengeroyokan, pihak kepolisian tidak  segan-segan akan menghentikan turnamen sepak bola antarkampung tersebut.

”Alhamdulillah hasil mediasi telah disepakati bersama dengan jalur damai. Ke depan tidak boleh lagi ada tindakan anarkis, semua pihak harus mengevaluasi agar kejadian serupa tak kembali terjadi,” ujar Kompol Samsodin. (ful)