Ngopi Bareng Pemuda Kediri, Ketua AMPI Ajak Generasi Muda Isi Sumpah Pemuda dengan Aksi Nyata

oleh
oleh

Refleksi Hari Sumpah Pemuda, Pramudya Ananta Permana Tekankan Pentingnya Toleransi, Integritas, dan Kreativitas untuk Bangsa

Kediri, ArahJatim.com — Sekitar 100 pemuda di Kota Kediri berkumpul dalam kegiatan Ngopi Bareng Pemuda Kota Kediri untuk merefleksikan makna Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Kegiatan yang digelar DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Kediri ini menjadi ruang diskusi bagi generasi muda untuk membahas peran dan kontribusi mereka dalam membangun masa depan bangsa.

Ketua DPD AMPI Kota Kediri, Pramudya Ananta Permana, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diwujudkan melalui upacara seremonial maupun sekadar menghafal nilai-nilai Pancasila. Lebih dari itu, semangat persatuan harus tercermin dalam sikap dan tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

pasang iklan_rev3

Menurut Pramudya, tantangan generasi muda saat ini semakin beragam, mulai dari derasnya arus informasi digital, perbedaan pandangan, hingga tuntutan untuk mampu bersaing di bidang ekonomi dan teknologi.

“Sikap generasi muda untuk negeri ini bukan cuma soal upacara dan hafal Pancasila. Ini soal cara kita hidup sehari-hari,” tegas Pramudya.

Ia menjelaskan, kecintaan terhadap Indonesia harus diwujudkan secara kritis dan bertanggung jawab. Pemuda perlu berani menyampaikan kritik terhadap hal-hal yang dinilai kurang tepat, tetapi tetap mengedepankan fakta, etika, serta semangat membangun.

Pramudya juga mengingatkan pentingnya menjaga toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Perbedaan suku, agama, maupun pilihan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan atau memutus hubungan persaudaraan.

Sebaliknya, generasi muda harus mampu membangun ruang dialog yang sehat dan terbuka, termasuk melalui kegiatan sederhana seperti berkumpul, berdiskusi, dan bertukar gagasan.

“Berbeda itu hal yang wajar. Kita harus bisa tetap duduk satu meja, berdiskusi, bahkan ngopi bareng tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan,” ujarnya.

Pemuda Harus Melek Digital dan Berani Berkarya

Selain toleransi, Pramudya menyoroti pentingnya etika dalam menggunakan teknologi digital. Menurutnya, media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk menghasilkan karya, mengembangkan usaha, memperluas wawasan, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan sekadar menjadi ruang untuk saling mencela.

Generasi muda juga perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Sikap kritis terhadap informasi dan kesadaran menjaga jejak digital dinilai penting di tengah cepatnya penyebaran berita di berbagai platform media sosial.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa integritas harus dibangun sejak dini, mulai dari lingkungan sekolah, organisasi, hingga kehidupan bermasyarakat. Kejujuran tidak hanya menjadi tuntutan bagi pejabat publik, tetapi juga harus diterapkan dalam tindakan sederhana, seperti tidak menyontek, tidak memanipulasi laporan, dan tidak mengandalkan praktik nepotisme.

“Integritas itu dilatih, bukan tiba-tiba datang. Kalau ingin Indonesia lebih baik, kita harus mulai membenahi diri sendiri dan berani jujur dari hal-hal kecil,” tegasnya.

Pramudya turut mendorong pemuda agar tidak berhenti pada kritik dan komentar di media sosial. Ia menilai kontribusi nyata dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti membantu pelaku UMKM mengembangkan usaha, terlibat dalam kegiatan sosial, menjaga kebersihan lingkungan, hingga berbagi pengetahuan dengan sesama.

Menurutnya, tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat lebih besar dibandingkan sekadar menyampaikan gagasan tanpa pelaksanaan.

Kemandirian Ekonomi dan Gotong Royong Jadi Tantangan

Dalam refleksi tersebut, Pramudya juga mengajak generasi muda untuk berani membangun kemandirian ekonomi. Pemuda tidak harus terpaku pada keinginan menjadi pegawai negeri atau bekerja di sektor formal, tetapi perlu membuka diri terhadap peluang usaha, ekonomi kreatif, pekerjaan lepas, dan pemanfaatan teknologi.

Ia menilai kreativitas dan keberanian menciptakan peluang menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi persaingan sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Kepedulian terhadap lingkungan dan semangat gotong royong juga menjadi bagian penting dari nilai-nilai yang perlu terus dijaga. Di era digital, gotong royong dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari penggalangan dana sosial, kegiatan kemanusiaan, berbagi keterampilan, hingga membantu masyarakat yang membutuhkan.

Pramudya mengingatkan bahwa generasi muda perlu menghargai perjuangan para pendahulu tanpa terjebak dalam masa lalu. Sejarah harus menjadi pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Sumpah Pemuda Harus Menjadi Gerakan Nyata

Melalui kegiatan Ngopi Bareng Pemuda Kota Kediri, DPD AMPI Kota Kediri berharap momentum Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa turut ditentukan oleh kualitas sikap dan kontribusi generasi mudanya.

Pramudya menegaskan, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 perlu diterjemahkan sesuai tantangan zaman. Pemuda masa kini dituntut tidak hanya memiliki semangat nasionalisme, tetapi juga berintegritas, toleran, adaptif terhadap teknologi, mandiri, dan mampu menghadirkan solusi.

Ia pun mengajak generasi muda untuk mulai mengubah cara pandang dalam memaknai kecintaan terhadap tanah air.

“Jangan terus bertanya negara sudah memberikan apa kepada kita. Mulailah bertanya, apa yang sudah kita berikan kepada negara melalui tindakan yang jujur dan bermanfaat,” pungkasnya.

Kegiatan yang berlangsung di DPD AMPI Kota Kediri, Jalan Super Semar Nomor 43, Ngronggo, Selasa malam (27/10/2026), tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antarpemuda sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam mengisi kemerdekaan melalui karya dan aksi nyata. (das) 

No More Posts Available.

No more pages to load.