Banyuwangi, ArahJatim.com – Tabuhan Angklung bagi masyarakat Banyuwangi adalah satu kesatuan karakter, sehingga gerak dan dinamika hidup orang Banyuwangi (Baca: Using) bisa dilihat pada proses penguasaan tabuhan angklung dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya dalam kompetisi Angklung Caruk.
Selama ini proses regenerasi dan transformasi nilai yang terkandung dalam proses angklung caruk tersebut, hanya melaluiĀ pengamatan dari mulai anak-anak, kemudian meniru dan mempraktekkannya setelah dewasa. Belum ada proses yang berjalan secara terkonsep, bagaimana menguasai alat tabuhan itu dan memainkannya secara utuh. Kemudian kelak mempraktekkannya dalam sebuah kompetisi Angklung Caruk sebenarnya.
āSaya miris jika melihat regenerasi kesenian asli Banyuwani, karena hanya terfokus ke berbagai festival yang terkesan eksploitasi. Sementara program regenerasi kurang digarap secara menyeluruh hingga ke lapisan bawah, terutama kantong-kantong kesenian asli Banyuwangi itu sendiri,ā kata Nuna Sutedjo, pemilik Kelompok Angklung Jaya Karyo, Sawahan, Banyuwangi.
Sebagai bentuk keprihatinan tersebut, kemudiaan Jaya Karyo menjalin kerjasama dengan Anak-Anak Kampoeng Batara, Papringan, Kalipura yang mempunyai minat tinggi terhadap kesenian Banyuwangi, terutama angklung. Konsep belajar bersama ini, setiap personel Jaya Karyo yang menguasai alat musik angklung, akan melatih dan mengawasi proses belajar satu anak dari alat musik yang mereka mainkan.
āAlhamdulillah, anak-anak senang dengan konsep belajar ini. Selama ini anak-anak Kampoeng Batara belajar secara otodidak, dengan melihat dan mendengarkan musik Banyuwangi. Sekarang dengan adanya guru yang ahli di bidangnya, mereka terlihat antusias mengikutinya. Semoga kelas program ini berkelanjutan, sehingga anak-anak bisa secara menyeluruh (mengikuti) proses belajar dan penguasaan alat musik. Bahkan hingga pentas, kami siap mengawal,ā kata Widie Nurmahmudy, owner Kampoeng Batara yang ikut menyaksikan proses belajar bersama ini.
āSaya menyambut baik upaya dari Sanggar Angklung Jaya Karyo, Sawahan Banyuwangi dengan Komunitas Anak-anak Kampoeng Batara Papringan Kalipura ini. Bagi kelompok seni profesional, inilah model regenerasi yang betul. Anak-anak tidak hanya diberi kesempatan mengamati dan menirukan, tetapi juga diberi ilmu praktek langsung dari masing-masing personel sanggar yang menguasai masing-masing gamelan. Bagi anak-anak, ini kesempatan emas untuk mendapatkan ilmu dari ahlinya. Apalagi pada proses Sinau Bareng Tabuhan Angklung ini, setiap anak akan dibimbing (oleh) satu guru pada unit gamelan yang dikuasai,ā kata Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dr. Taufiq Hidayat saat melihat langsung kegiatan latihan di Papringan, Kalipura, Banyuwangi.

Ketua DKB yang juga menguasai dan lancar memainkan alat musik angklung ini, berharap ke depan, kelompok angklung profesional di Banyuwangi juga melakukan proses yang sama di daerah masing-masing. Kalau bisa juga mencari kelompok anak-anak potensial dan ingin belajar angklung.
āIni sebagai wujud tanggung jawab bersama masyarakat, dalam mewariskan nilai seni kepada anak-anak. Tidak mungkin hal-hal demikian kita bebankan ke pemerintah, karena pemerintah tentu sangat terbatas dalam beberapa hal. Namun kita tetap berharap kepada pemerintah dalam mendukung program ini, misalnya kelak secara rutin juga dilakukan kompetisi tingkat anak-anak secara berkala.
Tidak atas nama sekolah, melainkan atas nama kelompok anak atau kampung,ā kata Dokter Taufiq yang juga Kepala RSUD Genteng, Banyuwangi ini.
Banyak pendidikan karakter pada proses pembelajaran tabuhan angklung ini, sangat cocok ditularkan kepada anak-anak. Misalnya, seorang anak yang ingin belajar tabuhan angklung harus belajar sungguh-sungguh, serta menghafalkan sejumlah gendhing yang akan diiringi dalam tabuhan tersebut.
Kemudian nilai sportivitas, itu juga ditanamkan sejak dini. Seperti dalam proses caruk kelak, kalau memang tidak bisa menguasai suatu gendhing, harus jujur mengakuinya. Tidak ada ruang untuk mempertahankan kebohongan.
āDalam proses Angklung Caruk sebenarnya, tidak ada juri yang menilai penampilan masing-masing kelompok. Namun masyarakat penontonlah sebagai juri yang jujur dan fair, karena mereka rata-rata menguasai tabuhan serta hafal dengan gendhing-gendhing daerah yang diiringi tabuhan angklung. Ini kan nilai yang bagus dan harus dikuasai anak-anak, yaitu apabila mau menang dalam kompetisi kehidupan sebenarnya, maka harus belajar sungguh-sungguh,ā pungkas Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi tersebut. (ful)












