Tasyakuran yang Penuh Cerita dan Rasa
Kediri, ArahJatim.com – Ratusan jamaah haji asal Kabupaten Kediri berkumpul dalam suasana hangat dan penuh syukur di Convention Hall, Simpang Lima Gumul, Rabu (6/8). Acara tasyakuran itu bukan sekadar seremoni, melainkan ruang silaturahmi antara para jamaah dengan Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana atau yang akrab disapa Mas Dhito.
Di momen itu, tawa, air mata, hingga nostalgia tumpah ruah. Masing-masing membawa cerita, dan tak sedikit yang mengejutkan sang bupati.
Sambel Pecel: Bekal yang Selalu Dirindukan
Mas Dhito mengungkap, seperti tahun-tahun sebelumnya, Pemkab Kediri kembali membawakan bekal makanan bagi para jamaah haji selama di Tanah Suci. Salah satunya sambel pecel.
Uniknya, meski sempat diwanti-wanti agar tidak menyertakan sambel pecel karena dianggap kurang cocok, ternyata justru itulah yang paling sering dicari oleh para jamaah.
“Kemarin saya sempat diwanti-wanti tidak usah bawakan sambel pecel. Tapi ternyata itu yang paling dimanfaatkan,” ujar Mas Dhito sambil tertawa.
Ucapan itu langsung disambut antusias para jamaah. Salah seorang bahkan berseru, “Pancen wong Kediri, digawake liane, panggah pecel sing digoleki!” Suasana pun mencair, membuat pertemuan itu semakin hangat dan penuh keakraban.
Kisah Keluarga yang Terpisah Rombongan
Di balik kisah sambel pecel, terselip cerita lain yang tak kalah menyentuh. Beberapa jamaah menceritakan bagaimana satu keluarga bisa terpisah dalam rombongan berbeda saat pelaksanaan haji. Meski berat, hal itu diterima dengan lapang dada.
Mas Dhito pun mencatat fenomena tersebut sebagai evaluasi. Tahun ini, sebanyak delapan syarikah (perusahaan layanan haji) dari Arab Saudi ditunjuk untuk melayani jamaah asal Indonesia, termasuk Kediri. Pembagian layanan ini memengaruhi distribusi rombongan, termasuk antar keluarga.
Doa untuk Dua Jamaah yang Berpulang
Tak hanya tawa, momen haru juga menyelimuti pertemuan tersebut. Dua jamaah asal Kabupaten Kediri—masing-masing dari Kecamatan Purwoasri dan Gurah—meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji.
“Tadi kita juga sempat mendoakan kedua jamaah haji yang lebih dulu meninggalkan kita. Semoga amal ibadahnya diterima dan keluarga diberi ketabahan,” ucap Mas Dhito penuh empati.
Silaturahmi yang Menyatukan Rasa
Bagi Mas Dhito, tasyakuran ini bukan hanya tentang ucapan selamat datang atau laporan perjalanan haji. Lebih dari itu, ini adalah ruang berbagi, tempat di mana warga dan pemerintah bisa saling mendengar, memahami, dan menguatkan.
“Silaturahmi seperti ini penting, agar kita semua tetap terhubung dalam satu rasa dan tujuan, termasuk dalam menyempurnakan pelayanan haji ke depan,” tutupnya. (das)










