Banyuwangi, ArahJatim.com – Tiga mahasiswa Untag Banyuwangi dari lintas Fakultas, Septi Diah Utami, Indahsyah dan Ria Octaviani yang terpilih dalam satu kelompok melakukan pengajuan penelitian, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti mengambil Objek Kebudayaan Kebo-Keboan di Desa, Alasmalang, Banyuwangi.
Dalam analisa para peneliti, tradisi Kebo-Keboan yang digelar setiap tahun sekali tersebut, ternyata hanya bisa dinikmati oleh para wisatawan pada saat ritual berlangsung sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan oleh panitia.
Baca Juga :
- Generasi Milenial Antusias Ikuti Banyuwangi Agribusiness Startup Competition
- Hitech Mall Surabaya, Ikon Elektronik Yang Menolak Musnah
- Bupati Kediri Halalbihalal Bersama Petugas Kebersihan
Melihat pembangunan Pariwisata di Kabupaten Banyuwangi yang sangat pesat, tentu menjadi kekurangan pada nilai jual Pariwisata Budaya. Sehingga para peniliti yang berasal dari kampus merah putih tersebut memberikan trobosan konsep Masterplan yang bertujuan agar setiap wisatawan yang datang ke Banyuwangi bisa melihat kapan saja ritual kebo-keboan.
Dalam pendapatnya, ketua tim, Septi Diah Utami menyampaikan bahwa hasil yang akan dicapai pada penelitian adalah masyarakat ataupun wisatawan yang datang ke Desa, Alasmalang berharap dapat menikmati dan memahami makna dibalik ritual Kebo-Keboan sekaligus menikmati wisata edukasi berbasis pesta lumpur.
Sebab lumpur yang identik kotor dan bau tersebut ternyata mampu menarik perhatian wisatawan yang datang untuk menikmati pesta lumpur. Selain itu harapanya kedepan Desa Alasmalang juga bisa menjadi tujuan wisata, agar dapat menambah perikonomian bagi pedagang sehingga dapat memajukan desa Alasmalang.
“Harapanya wisatawan yang datang bisa menikmati ritual Kebo-Keboan kapan saja untuk menikmati pesta lumpur. Agar Desa Alasmalang bisa menjadi kawasan wisata yang selalu dikunjungi wisatawan. Dengan banyaknya wisatawan yang datang secara otomatis akan meningkatkan perekomomian masyarakat sekitar,” ucap Septi.
Sementara itu, target jangka waktu penelitian lima bulan, ketiga peneliti tersebut menggunakan metodologi Riset and Development muncul model pengembangan assure. Sehingga target capain Master Plan wisata Edukasi Culturan Resilience pesta lumpur pada ritual kebo-keboan bisa tercapai dengan maksimal. (humas.bwi/ful)











