Kolaborasi Semua Elemen Kunci Sukses Hadapi TBC

oleh -

Kediri, ArahJatim.com – Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YABHYSA) berkolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, serta beberapa Rumah Sakit Swasta di Kabupaten Kediri bersinergi melakukan upaya penurunan kasus TBC atau Tuberculosis, pernyataan bersama ini dilakukan di Hotel Grand Surya, selasa (24/1/2023) .

Hadir dalam acara “Community Led Advocacy to District Legislatives and Executives to Ensure Mandatory Notification of TB Cases – DPPM
|Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Kolaborasi Penanggulangan Tuberkulosis” staf program SSR YABHYSA peduli TBC Kabupaten Kediri Sri Astutik, Kepala Bidang Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Kediri dr. Bambang Triyono Putro, serta 2 orang Legislatif anggota DPRD Kabupaten Kediri Khusnul Arif dari Nassem dan Taufik Chavifudin dari PPP.

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular penyebabnya adalah kuman Mycobacterium Tuberkulosis dan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut WHO dalam Global TB Report tahun 2021, Indonesia berada di peringkat kedua negara dengan kasus TBC setelah India dengan estimasi insiden sebesar 824.000 kasus atau 391 per 100.000 penduduk.

arahjatim new community
arahjatim new community

Kepala Bidang Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Kediri dr. Bambang Triyono Putro dalam paparanya mengatakan di tahun kemarin 2022 skrining penemuan kasus mulai naik di mana memang kita berharap temen-temen yang ada di faskes baik yang ada di Puskesmas, klinik, Dokter praktik Mandiri mulai mempertimbangkan setiap batuk itu adalah TBC, sampai dibuktikan itu bukan TBC.

“amanat dari Perpres no 67 tahun 2021 itu mewajibkan seluruh faskes untuk ikut terlibat dalam percepatan penanggulangan TBC di wilayah masing-masing,” ujar dr. Bambang

Lebih lanjut dr. Bambang mengatakan di Kabupaten Kediri tentunya kita berharap menemukan sebanyak-banyaknya sejauh target kasusnya kan 3000 kita baru menemukan sekitar 1900-an ya, Target ini berdasarkan proporsi yang ada di Indonesia.

” di kediri sekitar 3.400-an tapi yang kita ketemu baru 1900 artinya 56% sisanya masih ada di masyarakat dan ini yang butuh upaya yang keras semua dari kita di kesehatan dan masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya terkait dengan TBC, “kata dr. Bambang

Ditempat yang sama staf program SSR YABHYSA peduli TBC Kabupaten Kediri Sri Astutik mengatakan, pihaknya bersama anggota komunitas, turun ke bawah, untuk memberikan pengarahan kepada keluarga penderita, jika penderita TBC itu bukan aib. Karena selama ini banyak yang beranggapan jika penyakit TBC adalah aib dan juga penyakit keturunan.

“Saat ini banyak sekali keluarga penderita TBC yang merahasiakan jika ada keluarganya menderita TBC. Ibaratnya kita seperti mencari jarum dalam jerami. Namun begitu, kita akan terus melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada warga, agar membawa penderita ke TBC ke medis,” Jelas Sri Astutik, staf program SSR YABHYSA peduli TBC Kabupaten Kediri.

Sri Astutik menambahkan, saat ini penderita TBC di Kabupaten Kediri yang mau memeriksakan diri ke puskesmas sekitar 51 penderita.

“Data yang kita catat untuk penderita TBC yang kita antar ke puskesmas untuk berobat masih sekitar 51. Namun kita akan terus berkoordinasi dengan puskesmas-puskesmas, agar jumlah penderita TBC yang sudah memeriksakan diri diketahui berapa jumlahnya. Kita akan tempatnya 2/3 relawan di puskesmas, untuk mengetahui jumlahnya,” tambah Sri Astutik.

Sementara anggota DPRD Kabupaten Kediri Khusnul Arif mengatakan, pihaknya akan mendorong agar segera diterbitkan regulasi atau perda tentang penanganan TBC, agar penanganan TBC, khususnya di Kabupaten Kediri lebih maksimal.

“Sebagai pihak eksekutif, akan segera membentuk perda atau regulasi, agar penanganan penyakit TBC di Kabupaten Kediri lebih maksimal. Karena kesehatan adalah hak setiap warga negara, makanya kita akan segera membentuk regulasinya,” ujar Khusnul Arif, anggota DPRD Kabupaten Kediri.(das)

No More Posts Available.

No more pages to load.