Probolinggo, ArahJatim.com – Suasana persawahan di Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, mendadak riuh, Sabtu siang (28/12/2025). Sorak penonton pecah mengiringi derap sepasang sapi yang melaju kencang di lintasan berlumpur. Inilah karapan sapi sakak, balapan sapi unik tanpa cambuk dan tanpa penutup mata.
Tradisi yang digelar komunitas Prabulinggih—wadah para petani pemilik sapi bajak atau brujul—ini berbeda dari karapan sapi Madura. Selain berlangsung di lintasan sawah berlumpur, seluruh peserta dilarang menggunakan peralatan yang berpotensi melukai sapi. Keselamatan hewan menjadi aturan utama yang tak bisa ditawar.
Karapan sapi sakak digelar selama dua hari sebagai bagian dari pesta petani di musim tanam, yang puncaknya selalu berlangsung di penghujung tahun. Tahun ini, sebanyak 32 peserta ambil bagian, tak hanya dari Probolinggo sebagai tuan rumah, tetapi juga dari Lumajang, Pasuruan, hingga Madura.
Keunikan karapan ini tak hanya terlihat di lintasan. Jauh sebelum balapan, para pemilik sapi telah melakukan persiapan intensif. Di area khusus yang menyerupai paddock balap, sapi-sapi dirawat layaknya atlet. Jamu tradisional, pijat rutin, serta mandi dua kali sehari menjadi menu wajib.
“Baru kali ini saya ikut. Persiapannya hampir sebulan. Yang penting jamu, dipijat, dan rutin dimandikan,” ujar Robi Septianto, salah seorang pemilik sapi karapan.
Saat lomba dimulai, sepasang sapi disatukan dengan alat bernama kaleles. Mereka kemudian berpacu sejauh 100 meter. Siapa yang lebih dulu menyentuh garis finis, dialah pemenangnya. Euforia pun meledak, tak hanya dari pemilik sapi, tetapi juga seluruh anggota tim dan penonton di tepi arena.
Keunikan karapan sapi sakak menarik perhatian pemerintah daerah. Bupati Probolinggo, Mohammad Haris—akrab disapa Gus Haris—menyebut tradisi ini sebagai aset berharga yang layak dikembangkan.
“Ini tradisi unik khas Kabupaten Probolinggo dengan konsep yang spesial. Tidak ada alat yang menyakiti sapi karena memang sudah dilarang,” kata Gus Haris.
Ia menegaskan, karapan sapi sakak akan dijadikan agenda tahunan karena potensinya besar untuk mendukung pengembangan pariwisata daerah, sejalan dengan tagline wisata Probolinggo: nature, culture, and sport tourism.
Selain membawa pulang trofi dan uang pembinaan, para pemenang juga meraih keuntungan lain. Harga sapi mereka biasanya melonjak setelah menjuarai karapan—menjadikan tradisi ini bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga kebanggaan dan investasi bagi para petani. (dundee)










