Inspirasi Sertu Supriyadi: Babinsa Kelurahan Tinalan yang Sukses Budidaya Kenari Merah Lokal

oleh -
oleh
Sertu Supriyadi, Babinsa Kelurahan Tinalan, Kediri, raup hingga Rp3,5 Juta/bulan dari ternak Kenari. Meski sibuk bertugas, beliau tetap produktif mempersiapkan masa pensiun dengan dukungan penuh Kapten Dwi Agus Harianto (Danramil Pesantren). Inspirasi bagi kita semua untuk mulai berwirausaha!", Selasa (6/1/2016) (foto:arahJatim.com)

Kediri, ArahJatim.com – Menjadi seorang aparat teritorial tidak menghalangi kreativitas untuk berwirausaha. Inilah yang dibuktikan oleh Sertu Supriyadi, seorang Babinsa di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Di sela tugas pokoknya menjaga keamanan wilayah, prajurit TNI dari Koramil 02 Pesantren, Kodim 0809 Kediri ini sukses mengembangkan budidaya burung kenari merah lokal (Merlok).

​Hobi yang ditekuni sejak lama ini kini berkembang menjadi unit bisnis yang menjanjikan, sekaligus menjadi sarana hiburan di kala lelah bertugas.

Berawal dari Hobi Sejak di Asrama Malang

pasang iklan_rev3

​Kisah sukses Sertu Supriyadi dalam dunia ornitologi (burung) sebenarnya memiliki akar yang panjang. Ia mengaku sudah mulai belajar beternak burung sejak tahun 2009 saat masih bertugas di asrama TNI di Malang.

​”Ilmu dasarnya saya dapatkan saat masih di Malang dulu. Namun, baru benar-benar saya kembangkan secara serius di Kediri pada tahun 2020,” ungkap Sertu Supriyadi, dirumahnya Perumahan Doko Sragi, Kelurahan Doko Ngasem, Selasa (6/1/2026) 

​Saat ini, ia memiliki koleksi sebanyak 12 pasang indukan kenari berkualitas. Rinciannya terdiri dari 12 ekor betina dan sekitar 10 ekor pejantan. Fokus utamanya adalah kenari merah lokal yang memiliki daya tarik khusus bagi para kolektor.

Rahasia Perawatan: Sinar Matahari dan Konsistensi

​Mengelola peternakan burung kenari di tengah kesibukan sebagai Babinsa tentu bukan perkara mudah. Sertu Supriyadi membagikan tips keberhasilannya yang terletak pada kedisiplinan waktu.o

​”Kuncinya ada pada penjemuran. Minimal setengah jam hingga satu jam setiap hari agar burung tetap sehat dan aktif. Tantangannya hanya saat cuaca mendung atau musim hujan,” jelasnya.

​Ia memanfaatkan waktu luang di sela-sela memantau kondisi keamanan di Kelurahan Tinalan untuk mengurus kandang-kandangnya. Bagi Supriyadi, suara kicauan kenari bukan sekadar bisnis, melainkan “obat lelah” setelah seharian mengabdi kepada masyarakat.

Omzet Jutaan Rupiah dari Komunitas WhatsApp

​Sertu Supriyadi tidak kesulitan dalam memasarkan hasil ternaknya. Dengan bergabung dalam komunitas “Merlok Kediri”, ia cukup memanfaatkan status WhatsApp dan grup komunitas untuk promosi.

​Harga yang ditawarkan sangat bervariasi, tergantung pada usia dan kepekatan warna merah pada bulu burung:

  • ​Anakan (0-1 Bulan): Rp250.000 – Rp350.000
  • Tembayan (3-8 Bulan): Rp500.000 – Rp650.000
  • ​Pejantan: Rp850.000 hingga Rp1.500.000

​Dalam satu bulan, rata-rata ia mampu menjual 10 hingga 15 ekor burung dengan estimasi pendapatan tambahan mencapai Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per bulan.

Dukungan Penuh Danramil: Persiapan Masa Pensiun

​Langkah kreatif Sertu Supriyadi mendapat apresiasi tinggi dari atasannya, Danramil Pesantren, Kapten Inf Dwi Agus Harianto. Ia mendukung penuh para anggotanya untuk memiliki usaha sampingan selama tidak mengganggu tugas pokok TNI.

​”Saya sangat mendukung. Ini adalah langkah bagus, terutama untuk persiapan masa pensiun atau MPP (Masa Persiapan Pensiun). Kami mendorong seluruh Babinsa untuk menggali bakat atau usaha lain yang bisa menjamin masa tua nanti,” tegas Kapten Dwi Agus.

​Dengan adanya kegiatan positif seperti ini, para prajurit diharapkan memiliki rutinitas yang bermanfaat dan produktif pasca-purna tugas, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi keluarga.

No More Posts Available.

No more pages to load.