Kediri, ArahJatim.com – Suasana di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kediri mendadak tegang pada Rabu (6/5). Dewan Pengawas LSM Saroja, Supriyo, meluapkan kekecewaannya setelah mendapati ruang pelayanan publik instansi penegak hukum tersebut kosong melompong bak gedung tak berpenghuni.
”Ruang publik kosong, pelayanan dipertanyakan!” cetus Supriyo pedas. Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan tamparan keras bagi Korps Adhyaksa yang siang itu tak menampakkan batang hidung pejabat satu pun saat rakyat datang melapor.
Dua Tahun Tanpa Taring
Kedatangan Saroja bukan tanpa alasan. Membawa misi besar membongkar dugaan korupsi, Supriyo justru harus menelan pil pahit menunggu lebih dari setengah jam tanpa kepastian. Kondisi ini memperkuat kecurigaan publik mengenai performa Kejari Kota Kediri yang dianggap “mati suri” selama dua tahun terakhir.
Bukan Saroja namanya jika tidak berani bicara blak-blakan. Supriyo secara eksplisit melontarkan tudingan adanya “perselingkuhan” kelembagaan.
“Kami menduga sudah ada perselingkuhan antara Pemerintah Kota Kediri dengan Kejaksaan Negeri, sehingga hampir dua tahun nihil pembongkaran kasus korupsi di kota ini,” tegasnya dengan nada tinggi.
Ancaman “Teror” Laporan dan Aksi Massa
Mandeknya penegakan hukum ini memicu reaksi berantai. Saroja menyatakan tidak akan lagi memberikan ruang bagi kompromi. Dalam waktu dekat, mereka berencana menggoyang kedamaian kantor Kejari dengan rentetan aksi nyata:
- Laporan Rutin: Mengirimkan berkas dugaan korupsi secara berkala (mingguan atau bulanan).
- Aksi Turun Jalan: Melayangkan surat pemberitahuan demonstrasi ke Polres Kediri Kota.
- Kontrol Sosial Total: Memastikan tidak ada celah bagi praktik lancung yang merugikan keuangan negara.
Momentum Sewindu: Saroja Kembali ke Aspal!
Gebrakan ini sekaligus menandai HUT ke-8 (Sewindu) LSM Saroja. Setelah sempat “beristirahat”, organisasi ini menyatakan telah mengonsolidasi kekuatan penuh, mulai dari tim hukum yang mumpuni hingga sayap media yang solid.
”Hari ini, di momentum ulang tahun yang ke-8, Saroja akan kembali ke jalanan. Kami akan bergerak jauh lebih baik untuk membongkar korupsi di sekitar kita,” tutup Supriyo mengakhiri orasinya di depan awak media.
Kini, bola panas ada di tangan Kejari Kota Kediri. Publik menanti, apakah instansi ini akan tetap bungkam atau membuktikan taringnya yang selama ini dianggap tumpul oleh masyarakat. (das)










