Hentikan Kasus ‘Pembunuhan’, Polres Ponorogo digugat

by -
https://live.staticflickr.com/65535/48890856968_affa55b322_b.jpg

Ponorogo, ArahJatim.com – Polres Ponorogo dipraperadilan (digugat) keluarga korban, lantaran menghentikan penyidikan (menutup) kasus dugaan pembunuhan di Dusun Warung, Desa Bedi Wetan, Kecamatan Bungkal Ponorogo jawa timur.

Dugaan pembunuhan terhadap Mulyono oleh sejumlah orang terjadi pada Februari 2018 silam. Namun pada 1 Desember 2018, Polisi menghentikan kasus ini dengan dalih tidak cukup bukti.

Keluarga korban, melalui tim Penasehat Hukum, tidak bisa begitu saja menerima keputusan polisi. Mereka menempuh jalur hukum dan memperkarakan Polisi ke Pengadilan Negeri Ponorogo.

“Dasar kami menempuh jalur hukum ini karena kami merasa dizalimi oleh penyidik. Bagaimana tidak, saksi sekian banyak, peran masing-masing saksi juga sudah jelas, kok malah penyidikannya dihentikan. Ada apa ini,” ungkap Didik dengan nada tanya.

Selain tidak terima dengan sikap polisi yang dinilainya tidak serius menangani kasus dugaan pembunuhan ini, keluarga korban juga menanyakan perihal pakaian korban yang tidak diserahkan ke pihak keluarga, namun juga tidak dijadikan barang bukti.

“Kami juga berasumsi, Penyidik dengan sengaja menghilangkan pakaian korban yang mestinya bisa dijadikan petunjuk penyelidikan. Namun yang terjadi, tidak dijadikan barang bukti, tetapi juga tidak dikembalikan kepada kami. Tentu hal ini juga menjadi pertanyaan kami,” jelas Didik kepada wartawan.

Selain itu, Didik juga mempertanyakan soal serpihan kayu pintu dari rumah Marlohi (tempat kejadian perkara), yang justru diambil penyidik untuk dijadikan barang bukti.

“Kalau baju yang melekat pada tubuh korban saja tidak dijadikan barang bukti, lantas apa korelasi antara serpihan kayu dengan penyebab kematian korban. Padahal peyidik selalu berargumen jika korban meninggal akibat serangan jantung. Kalau memang kena serangan jantung, kenapa kaki dan tangan korban diikat,” imbuh Didik, lagi-lagi dengan nada tanya.

Sidang praperadilan atas gugatan keluarga korban melawan Polres Ponorogo sudah memasuki tahap kesimpulan. Senin, 13 Oktober mendatang, Hakim Albanus Asnanto. SH.MH akan membacakan keputusan atas gugatan ini.

Sebelumnya Mulyono, warga Desa Bedi Wetan ditemukan tewas dengan tangan dan kaki terikat, Sabtu 3 Januari 2018.

Informasi yang dihimpun, kasus dugaan penganiayaan itu berawal ketika korban Mulyono mendatangi rumah Ika Cahyanti, tetangganya. Sudah lama Mulyono memendam rasa cinta terhadap gadis pujaannya tersebut. Namun dia selalu ditolak hingga membuatnya menjadi depresi.

Diduga gelap mata dan tidak mampu mengendalikan emosi, Mulyono mengamuk dan merusak pintu rumah Ika Cahyanti.

Kabar itu di dengar kakak dan orang tua Mulyono, yakni Katimun dan Yatni. Mereka lalu dibantu sejumlah warga menahan dan terpaksa melumpuhkannya karena terus berontak. Setelah memastikan tidak akan mengamuk lagi, keluarga Mulyono pergi mengambil mobil untuk mengevakuasinya.

Namun betapa kagetnya mereka, saat kembali ke lokasi itu, Mulyono sudah terbujur kaku dengan tangan dan kaki terikat. Sekujur tubuh pria bertubuh tambun itu menunjukkan lebam bekas penganiayaan, khususnya pada wajah dan dada.

Keluarga menduga, Mulyono jadi korban aksi massa yang main hakim sendiri dan melakukan penganiayaan terhadap anggota keluarga mereka. Tiga hari setelah kematian Mulyono, keluarga ditemani sejumlah warga pun berani melaporkan kejadian itu ke polisi. (hrp)