Geruduk Rumah Wabup, Warga Ngotot Dukung Soedjarno Maju Pilkada 2020

oleh -
oleh
https://live.staticflickr.com/65535/49293095512_826eafda57_b.jpg
Sambil mengacung-acungkan KTP sebagai tanda dukungan, warga mendesak Soedjarno maju dalam Pilkada Ponorogo 2020. (Foto: arahjatim.com/rib)

Ponorogo, ArahJatim.com – Meskipun selama ini Wakil Bupati Ponorogo Soedjarno diam, namun sebagian warga Ponorogo justru mendorongnya untuk maju dalam kontes Pemilihan Kepala Daerah Ponorogo 2020 mendatang.

Minggu, (28/12) kemarin siang, puluhan warga Ponorogo dari berbagai penjuru datang ke kediaman Wabup dan meminta agar Soedjarno bersedia tampil dalam Pemilihan Bupati yang akan datang.

Uniknya, warga ngotot mendukung Soedjarno walaupun harus melalui jalur independen. “Apa yang bisa kami harapkan dari partai-partai yang ada di Ponorogo ini. Mereka lebih memikirkan uang dari pada memikirkan rakyat. Buktinya mereka lebih memilih petahana yang selama ini sudah mengeruk hasil bumi Ponorogo,” ungkap Asep, salah seorang warga kepada arahjatim.com tadi siang.

pasang iklan_rev3

Ia juga mengatakan, bersama teman-temannya akan bekerja keras mengumpulkan KTP dari warga untuk memenuhi persyaratan Soedjarno maju Pilkada yang akan datang.

“Meskipun berat, kami dan teman-teman akan terus menggalang relawan demi mewujudkan perjuangan ini, agar Ponorogo benar-benar menjadi baik. Bukan malah sebaliknya san soyo bubrah,”  imbuhnya.

Sementata itu, Didik Hariyanto dan Sumanto yang menjadi mediator pertemuan antara warga dengan Wakil Bupati mengaku terharu atas kemauan warga ini.

“Kami sangat trenyuh dengan keadaan ini. Alhamdulillah masih ada warga yang sadar jika selama ini mereka sudah dijadikan  objek oleh penguasa daerah. Ini harus didukung.” ungkap Didik di hadapan warga dan Soedjarno.

Selain itu Didik juga memberikan suntikan semangat kepada warga, jika siang ini mereka dengan tulus datang ke kediaman Wabup, jangan sampai dalam pemilihan yang akan datang menjadi silau oleh iming-iming uang.

“Apa arti uang 40 sampai 50 ribu kalau selama lima tahun hasil bumi Ponorogo dikeruk dan aturan-aturan ditabrak oleh penguasa. Warga ini membutuhkan pemimpin yang benar-benar mampu mengayomi rakyatnya. Bukan penguasa yang hanya senang foya-foya dan jogetan saja,” ketus Didik yang disambut teriakan ‘boloku Pak Djarno’.

Sementara itu, Soedjarno kepada wartawan mengatakan perihal diamnya selama ini. Ia mengaku dirinya selama ini diam karena memang didiamkan oleh Bupati. Artinya, selama ini ia tidak pernah dilibatkan dalam berbagai hal terkait dengan agenda-agenda kerja Pemerintah Kabupaten Ponorogo.

“Meskipun saya dan Pak Ipong adalah satu paket, kami dilantik dan diberi SK dari Menteri Dalam Negeri dalam satu paket. Tetapi saya dianggap sebagai anak buah yang tidak perlu dilibatkan dalan berbagai kegiatan pemerintahan,” ungkap Soedjarno.

Bukan itu saja, imbuh Soedjarno. Ia juga mengatakan sebelumnya Wabup memiliki tiga ajudan namun dua ajudan  ditarik dan tinggal satu ajudan yang membantunya. “Mobil dinas saya juga mau ditarik, tetapi setelah saya minta dibuatkan surat penarikan, ternyata sampai saat ini tidak diberikan juga,” imbuh Siedjarno tadi siang.

Menanggapi kedatangan puluhan warga Ponorogo dari berbagai penjuru wilayah ini, Soedjarno mengaku kaget karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Ia mengaku sebenarnya dirinya tengah bersiap untuk menunaikan salat Dzuhur di masjid. Karena warga tiba-tiba datang akhirnya ia baru bisa menemuinya seusai salat. (rib)

No More Posts Available.

No more pages to load.