Lumajang, ArahJatim.com – Ditetapkannya Ranupani sebagai desa wisata terbaik bersama 49 desa wisata lain di Indonesia oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi pemacu semangat bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. Bahkan, berbagai upaya perbaikan dan pembenahan terus dilakukan termasuk perbaikan infrastruktur, sumber daya manusia hingga kebijakan pengembangan kawasan wisata.
Salah satunya, adalah perbaikan gelanggang terbuka Amphitheater, infrastrutur jalan, hingga pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Pembangunan infrastruktur dan SDM akan menjadi fokus kami, yang jelas target kami Ranupani harus masuk 10 besar ADWI 2021,” jawab Bupati Lumajang, Thoriqul Haq saat dihubungi ArahJatim.com melalui pesan singkat, Senin (20/9/2021).
Bahkan, kini desa yang berada di ketinggian 2.200 MDPL itu telah resmi memiliki Smart Village, atau sarana komunikasi dan informasi yang memungkinkan bisa diakses dengan mudah oleh siapapun yang berkeinginan melakukan perjalanan wisata ke daerah ini.
Selain letak geografisnya yang berada di lereng Gunung Semeru, Desa Ranupani juga memiliki kultur budaya yang khas, sebab daerah ini merupakan salah satu desa yang dihuni oleh Suku Tengger, selain daerah lain di sekitar kawasan Gn. Semeru dan Gn. Bromo.
Suku Tengger sendiri merupakan salah satu dari 1.331 suku bangsa yang ada di Indonesia dan hanya ada di empat kabupaten/ kota di Indonesia, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Sementara di Lumajang, suku ini menempati 2 desa, yakni Desa Argosari dan Desa Ranupani yang berada di Kecamatan Senduro.

Suku bangsa dan budaya Tengger inilah yang dinilai menjadi potensi Ranupani dalam pengembangan kawasan wisata. Bahkan, salah satu anggota Komisi X DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Parisiwata dan Ekonomi Kreatif menyebut bahwa desa ini memiliki dua potensi besar, yakni potensi Agrowisata dan Agronomi.
“Yang pasti Ranupani memiliki dua potensi besar mas, pertama potensi agrowisata dan potensi agronomi,” ungkap legislator Senayan, Muhammad Nur Purnamasidi.
Ia bahkan bertekad selain mengawal kebijakan yang pro terhadap pengembangan Ranupani, pihaknya juga akan menyiapkan anggaran khusus untuk pengembangan Ranupani, terutama dalam sektor parisiwata yang memungkinkan bisa menciptakan kesejahteraan bagi penduduk asli Ranupani.
“Sudah saya sampaikan juga ke Pak Bupati, kalau di pusat itu ada Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan. Ini mumpung saya masih di Banggar juga,” tambah pria kelahiran Bekasi itu.
Hanya saja, ia mengingatkan bahwa upaya pemulihan ekonomi melalui sektor pariwisata ini harus berbasis masyarakat, sebab secara substansi pariwisata harus memberikan manfaat lebih bagi masyarakat di sekitar destinasi.
“Saya menyampaikan ke Pak Menteri di rapat terakhir dengan kami, agar mengubah perspektif pembangunan kawasan wisata dari industri menjadi komunitas pariwisata sehingga masyarakat asli menjadi pemain utama,” pungkasnya.
Selain destinasi alam dan budaya, Ranupani merupakan desa terakhir sebelum Gunung Semeru. Sehingga kerap kali menjadi desa dengan aktivitas wisata tersibuk saat aktivitas pendakian ke puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dibuka. (rokhmad)










