Tulungagung, ArahJatim.com – Tantangan dunia pendidikan jasmani tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) kini semakin kompleks. Guru olahraga tidak hanya dituntut lihai mengajar di lapangan, tetapi juga harus andal dan jujur dalam bertindak sebagai evaluator.
Berangkat dari komitmen tersebut, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar pelatihan khusus di Tulungagung, Sabtu (18/7/2026)
Bertempat di SMP N 3 Tulungagung pada 17-18 Juli 2026, pelatihan ini mengusung tema “Penyusunan dan Pengembangan Tes Keterampilan Materi Sepakbola untuk Guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga Tingkat SLTP”. Agenda ini sukses mempertemukan 40 guru olahraga SLTP se-Kabupaten Tulungagung untuk memperbarui pola pikir dan metodologi penilaian mereka.
Evaluasi Sebagai Fondasi Kejujuran dalam Olahraga
Ketua Tim PKM UNESA, Dr. Achmad Widodo, M.Kes., menegaskan bahwa esensi utama dari sebuah evaluasi atau penilaian bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah kejujuran. Menurutnya, selama ini guru olahraga sering kali terjebak dalam “kekompakan” yang keliru saat memberikan nilai praktis kepada siswa.
”Pengalaman saya mendampingi guru Penjas di tingkat nasional maupun daerah, kalau urusan memberi nilai itu paling kompak. Dari ujung timur sampai barat, nilainya rata-rata berkisar antara 6 sampai 8. Padahal skala nilai itu 0 sampai 100,” ujar Dr. Achmad Widodo di hadapan para peserta.
Beliau menjelaskan bahwa melalui evaluasi dan pengukuran (measurement) yang tepat, subjektivitas guru bisa ditekan secara signifikan. Dengan demikian, umpan balik (feedback) yang diberikan kepada siswa menjadi jauh lebih objektif dan memotivasi mereka untuk terus berkembang.
Menggeser Paradigma Lama: Tes Fisik Harus Sesuai Kebutuhan Zaman
Salah satu sorotan tajam dalam pelatihan ini adalah masih banyaknya guru yang menggunakan metode tes usang yang sudah tidak relevan dengan karakteristik cabang olahraga. Dr. Achmad Widodo mencontohkan bagaimana evaluasi fisik pada materi sepakbola sering kali disamakan begitu saja dengan lari jarak jauh konvensional seperti 2,4 kilometer.
Secara ilmiah, karakteristik pemain sepakbola modern (misalnya kelompok umur U-17) dituntut menempuh jarak 9 hingga 10 kilometer dalam satu pertandingan dengan kombinasi performa energi yang spesifik: sekitar 40% aerobik murni dan 60% sisanya berada di ambang batas (threshold) hingga anaerobik.
”Kalau kita tidak tahu kebutuhan mendasar seperti kapasitas kardiovaskuler (cardiovascular) yang riil sesuai dinamika lapangan, lantas apa yang kita latih dan apa yang kita teskan? Pola pikir instan inilah yang coba kita benahi bersama agar tes fisik benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur,” tambahnya.
Fleksibilitas Penilaian dan Peluang Beasiswa S2 Jalur RPL
Melalui ruang diskusi yang interaktif, tim PKM FIKK UNESA menjabarkan bahwa guru SLTP memiliki kebebasan untuk mengembangkan instrumen tes mandiri yang disepakati bersama. Format tes keterampilan boleh saja sama, misalnya tes lari 800 meter, namun kriteria penilaiannya harus dibedakan secara adil berdasarkan tingkatan kelas, usia, atau perkembangan antropometri siswa.
Selain membagikan formula praktis statistik untuk memanipulasi sebaran nilai secara legal tanpa melanggar batas maksimum, Dr. Achmad Widodo juga membawa kabar baik bagi keberlanjutan karier para guru olahraga di Tulungagung.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi para guru, beliau membuka peluang emas bagi para peserta yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S2 di UNESA lewat jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini menawarkan efisiensi waktu lewat konversi pengalaman kerja menjadi SKS akademik, bahkan dengan peluang skema pendidikan yang sangat meringankan.
Melalui sinergi silaturahmi dan pengembangan ilmu pengetahuan ini, FIKK UNESA berharap para guru olahraga di Tulungagung tidak lagi sekadar menjadi pengajar, melainkan menjadi ilmuwan olahraga (sports scientist) di sekolahnya masing-masing demi melahirkan generasi muda yang sehat, bugar, dan tangguh.










