Deputi Menpora: Program Pertukaran Pemuda Jalankan Fungsi Diplomasi Budaya Secara Nyata

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49130767613_4571765360_b.jpg
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Asrorun Niam Sholeh mengunjungi salah satu keluarga yang menjadi orang tua bagi pemuda Indonesia dalam program AIYEP di Brisbane, Australia. (Foto: arahjatim.com/humas kemenpora)

Brisbane, ArahJatim.com – Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Asrorun Niam Sholeh blusukan ke “kampung” homestay yang dijadikan tempat tinggal peserta  Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) untuk bertemu dan menyaksikan langsung kondisi para pemuda dan aktivitasnya sekaligus mensupervisi manfaat program tersebut.

“Atas nama pemerintah Indonesia, saya ucapkan terima kasih karena telah menjadi orang tua bagi pemuda Indonesia dalam program AIYEP,” ujar Niam kepada keluarga pasangan suami istri Sara dan David Wallace di 17 Minto Crescent Arana Hills Brisbane, Negara Bagian Queensland Australia,  (27/11/2019).

Baca juga:

Kunjungan Niam ke homestay  kali ini didampingi oleh Marcella, warga berkebangsaan Argentina yang menjadi penanggung jawab program untuk di Australia.

Niam berharap peserta dapat belajar banyak dalam pergaulan multikultural di dunia Internasional dan menjadi duta bangsa dalam pergaulan internasional, terutama dengan Australia yang menjadi negara tetangga.

Salah satu prioritas kita adalah membangun harmoni, moderasi, dan kerukunan, serta respek dan menghargai perbedaan. Mencegah radikalisme dan kebencian atas dasar sara.

Hesti, salah satu peserta AIYEP dari Palembang sangat senang telah dipilih salah satu duta Indonesia, dan terpilih untuk dikunjungi Deputi. Ia bercerita kesannya memperkenalkan budaya dan mengajar bahasa Indonesia di Primary School Brisbane.

“Alhamdulillah program ini sangat bermanfaat untuk saya sebagai peserta, untuk Indonesia dan juga untuk warga Australia sini. Saya di sini mengajar bahasa Indonesia  di sekolah dan mengenalkan budaya Indonesia pada murid. Orang tua angkat saya juga sangat mendukung. Bahkan anaknya ingin belajar di Indonesia,” jelas delegasi pemuda perwakilan Sumatera Selatan ini.

Suasana hangat penuh kekeluargaan  sangat terasa saat kunjungan ini. Peserta menyatu dengan keluarga dan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sangat menghormati hal-hal yang bersifat khusus, termasuk urusan ibadah dan pangan halal.

Sungguh, program ini efektif sebagai sarana diplomasi budaya, sekaligus laboratorium untuk mewujudkan masyrakat terbuka, respek antarsesama, meski berbeda.

“Saya merasakan suasana hangat, bahagia, penuh kekeluargaan. Sangat natural, tidak dibuat-buat. Para peserta menyatu dengan keluarga di sini, saling berbagi dan saling respek satu dengan yang lain. Dia juga konsens tentang pangan halal bagi muslim. Ini betul-betul wujud nyata dialog peradaban dan perwujudan komitmen ukhuwwah basyariyah atau persaudaraan kemanusiaan,” jelas mantan aktivis mahasiswa 98 ini.

Atas nama pemerintah Indonesia, Asrorun Niam mengucapkan terima kasih kepada pasangan suami istri Sara dan David Wallace yang telah menjadi orang tua bagi pemuda Indonesia dalam program AIYEP. (Foto: arahjatim.com/humas kemenpora)

Di sela diskusi ringan di kediaman yang sederhana tapi asri tersebut, Audry (8), anak kedua pasutri ini sudah fasih mendemonstrasikan tari saman dan juga memainkan wayang yang diperoleh dari belajar bersama Resti.

Sara, Ibunda Audry menegaskan anaknya sangat senang dengan kehadiran Resti. “Dia sudah menyatu dengan Resti. Karena kedekatannya, ia cepat sekali belajar dari Resti, dan ingin sekali ke Indonesia”, ujar Ibu dua anak yang masih SD ini.

Di antara upaya Kemenpora adalah pertukaran pemuda antarnegara, salah satunya dengan Australia sebagai tetangga.

AIYEP merupakan program kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan The Australian Departement of Foreign Affairs and Trade (DFAT). Peserta diseleksi dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah fase Australia, selanjutnya pada bulan Desember sampai Januari dilaksanakan fase Indonesia di Malang Jawa Timur. Peserta dari pemuda Australia dan pemuda Indonesia, masing-masing sebanyak 18 orang. Selama di Indonesia, mereka juga tinggal di rumah penduduk. (humas kemenpora)