Demokrasi yang Menolong: Catatan Reflektif Imam Wihdan Zarkasyi dari Kediri

oleh
oleh

Kediri, ArahJatim.com – Peringatan Hari Demokrasi Internasional setiap tanggal 15 September kerap kali diwarnai dengan wacana besar seputar pemilu, kontestasi politik, hingga dinamika kekuasaan. Namun, Imam Wihdan Zarkasyi, yang akrab disapa Pak Lek Imam, menyoroti demokrasi dari sudut pandang yang lebih dekat dengan keseharian warga.

​Melalui catatan refleksinya bertajuk Jahe Ketan, Pak Lek Imam mengajak publik menakar makna demokrasi bukan sekadar ritual lima tahunan di kotak suara, melainkan pada dampak nyatanya bagi kehidupan masyarakat.

​Lebih dari Sekadar Pemilu dan Kotak Suara

​Bagi masyarakat di daerah, khususnya di Kota Kediri, demokrasi sejati tercermin dari hal-hal mendasar yang dirasakan sehari-hari. Mulai dari kepastian akses pendidikan anak, rasa aman pedagang pasar, perbaikan fasilitas umum, hingga kemudahan mencari lapangan kerja.

pasang iklan_rev3

​”Demokrasi sering kali terlalu sibuk dibicarakan sebagai urusan pemilu atau siapa yang menang dan kalah. Padahal bagi warga, demokrasi hadir dalam perkara yang jauh lebih sehari-hari,” tutur Pak Lek Imam.

​Menurutnya, dinamika kota yang relatif compact seperti Kediri memiliki keunggulan tersendiri. Jarak antara warga, pemerintah, DPRD, akademisi, hingga pelaku usaha yang terhitung dekat seharusnya menjadi modal sosial yang kuat untuk menghidupkan ruang dialog publik.

​Membangun Demokrasi yang Menolong dan Bertanggung Jawab

​Konsep yang ditawarkan Pak Lek Imam adalah “demokrasi yang menolong”. Konsep ini menekankan pentingnya tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak harus selalu menuruti seluruh keinginan warga karena banyaknya suara tidak otomatis menandakan kebenaran, begitu pula kekuasaan tidak serta-merta membuat pejabat paling tahu.

​Prinsip utamanya terletak pada kedewasaan berdemokrasi:

  • Warga bertanggung jawab atas partisipasi dan penyampaian aspirasinya.
  • Pemerintah bertanggung jawab mengelola kekuasaan dan keterbukaan data kebijakan.
  • Wakil Rakyat bertugas memastikan aspirasi warga—baik yang terdengar maupun tidak—tetap terakomodasi.
  • Akademisi, Media, dan Komunitas berperan menguji persoalan serta menjaga kualitas percakapan publik.

​Melalui sinergi dan perjumpaan sosial (srawung) yang sehat, kritik tidak lagi dipandang sebagai perlawanan destruktif, dan dukungan tidak diartikan sebagai pembenaran buta.

​Tolok Ukur Utamanya: Siapa yang Tertolong?

​Ujian tertinggi dari sebuah sistem demokrasi adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat, terutama kelompok yang rentan.

​”Kita boleh berbeda pilihan dan kepentingan. Namun pada akhirnya, demokrasi harus diuji dengan pertanyaan yang sama: siapa yang tertolong?” pungkasnya.

​Hari Demokrasi Internasional menjadi pengingat bahwa hak memilih yang dimiliki warga harus bermuara pada kebijakan yang adil, melindungi yang lemah, dan memberikan kesempatan tumbuh bagi generasi muda.

No More Posts Available.

No more pages to load.