Demi Susu Anak, Satimah Akan Gugat Mantan Suami

oleh -

Surabaya, ArahJatim.com – Perjalanan hidup yang dialami Siti Satimah (39), warga Sawah Pulo Kulon, Kelurahan Ujung Kota Surabaya cukuplah pedih. Pasalnya ia harus memikul beban hidup seorang diri bersama tiga orang anaknya yang masih kecil.

Keseharian Satimah dilalui dengan berjualan jajanan renteng khas masyarakat kelas bawah demi mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama anak-anaknya.

Hal ini dilaluinya sejak ditinggal sang suami empat tahun silam. Kepergian suaminya mengejutkan Satimah lantaran ia ditalak cerai oleh si suami tanpa harus memberikan tanggung jawabnya kepada keluarga kecilnya.

Perceraian yang dialaminya tanpa pemberitahuan sebelumnya, setelah ia mengandung anak ketiga selama 7 bulan si suami sudah jarang pulang dan memberikan nafkah kepadanya dan anak-anaknya. Setelah kelahiran anak ketiganya Satima lantas menerima surat cerai yang telah diputus oleh Pengadilan Agama Kota Surabaya.

“Loh, saya kaget waktu itu, saya gabisa baca tulis ko tiba-tiba dikasi tahu kalau saya sudah dicerai sama suami saya. Sudah tidak menafkahi saya dan anak saya,” ungkapnya sembari tertunduk sedih.

Selama ini Satimah hanya meminta tanggung jawab mantan sumainya yang tengah lupa dalam tanggung jawabnya sebagai seorang ayah yang memiliki tiga anak. Satimah menyebut jika mantan sumainya tidak pernah memberikan nafkah kepada anaknya.

“Tidak pernah, hanya beberapa kali setelah dilaporkan ke pihak Polsek Semampir. Di sana saya buat perjanjian dengan Saleh (mantan suaminya) jika ia sanggup untuk menafkahi anaknya sebesar satu juta tiap bulan. Tapi itu cuman beberapa kali dan tidak sampai satu juta jumlahnya,” paparnya.

Atas kejadian tersebut ia bingung harus mencari peradilan ke mana untuk ketiga anaknya yang terlantar, ia masih menunggu dan berharap tanggung jawab mnantan suaminya yang telah menceraikannya.

“Penghasilan saya tidak nentu, sehari hanya 5 ribu sampai 15 ribu. Itu kalau beruntung. Sementara susu anak saya yang kecil harus saya carikan tiap harinya,” ujar Satimah.

Sementara itu, Praktisi Hukum Ahmad Faisal Prawata mengatakan jika kasus ini harusnya tidak terjadi, ia menilai terdapat kejanggalan hingga terbitnya Akta Cerai dari Pengadilan Agama Kota Surabaya.

“Ada kesalahan penerbitan surat yang harus diruntut dari awal hingga menyebabkan terjadinya penelantaran anak yang dirasa cukup merugikan, hingga menerbitkan Surat Keterangan Tidak Ada di Tempat atau istilah umunya Ghaib,” ungkapnya.

Istilah ghaib itu muncul terkait gugatan cerai, di mana salah satu pasangan yang mengajukan gugatan cerai tidak diketahui keberadaannya (gaib).

Dimana sampai dengan diajukannya gugatan tersebut, alamat maupun keberadaan suaminya tidak jelas (tidak diketahui).

“Intinya, sidang gaib itu diajukan di Pengadilan Agama,” pungkasnya. (fm)