Bukan Sekadar Merajut, 14 Warga Binaan Kini Produksi Tas, Dompet hingga Boneka yang Masuk Rantai Produksi Perusahaan
Kediri, ArahJatim.com – Siapa bilang tembok penjara harus menjadi batas untuk berkarya?
Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri, warga binaan justru mulai menunjukkan bahwa tangan mereka tetap bisa menghasilkan karya bernilai ekonomi.
Benang demi benang dirajut menjadi tas, dompet, boneka dan berbagai kerajinan lainnya. Bahkan, hasil karya tersebut kini tidak berhenti di dalam Lapas. Puluhan produk rajutan warga binaan telah dikirim ke Solo untuk masuk proses produksi lebih lanjut.
Program ini dijalankan Lapas Kediri bersama PT Arta Jayandra Perkasa melalui pelatihan merajut yang digelar rutin setiap pekan.
Sebanyak 14 warga binaan, terdiri dari tujuh perempuan dan tujuh laki-laki, mengikuti pelatihan tersebut.
Namun, mereka tidak hanya diajari sekadar bisa merajut.
Para peserta dituntut memahami standar produksi layaknya pekerja profesional. Teknik, ketepatan pola, kerapian hingga kualitas akhir produk menjadi bagian penting yang harus dikuasai.
Pendampingan dilakukan langsung oleh Manda Handayani, pemilik sekaligus CEO usaha kerajinan rajut. Pemateri bahkan didatangkan dari Solo untuk membimbing warga binaan secara langsung hingga mampu menghasilkan produk yang memenuhi standar.
Hasilnya mulai berbicara.
Sepanjang September ini, puluhan hasil rajutan warga binaan Lapas Kediri sudah dikirim ke Solo. Produk tersebut meliputi tas, dompet, boneka dan berbagai kerajinan lainnya untuk diproses lebih lanjut oleh PT Arta Jayandra Perkasa.
Yang lebih penting, karya yang memenuhi standar produksi membuka peluang bagi warga binaan untuk memperoleh premi atau upah.
Dengan begitu, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan mengisi waktu. Ada proses belajar, bekerja, menghasilkan produk, hingga mendapatkan penghargaan atas hasil kerja.
Komisaris PT Arta Jayandra Perkasa, Arja Rusli, mengatakan pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama melalui MoU dengan Lapas Kediri.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi jalan baru bagi Warga Binaan untuk berkarya dan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Arja menegaskan, setiap produk harus memenuhi standar yang telah ditentukan perusahaan, mulai teknik dasar, presisi pola, kerapian hingga kualitas akhir.
Warga binaan yang sudah mahir dan mampu memenuhi standar produksi, lanjut dia, akan dipertimbangkan untuk terus dilibatkan dalam proses produksi perusahaan.
Sementara itu, Kalapas Kediri Gatot Tri Rahardjo mengatakan pembinaan kemandirian harus meninggalkan bekal yang benar-benar bisa digunakan warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
“Kami ingin setiap pelatihan tidak berhenti pada proses belajar, tetapi menjadi bekal produktif yang dapat dikembangkan setelah Warga Binaan kembali ke masyarakat,” kata Gatot.
Menurutnya, kerja sama dengan PT Arta Jayandra Perkasa memberikan ruang bagi warga binaan untuk belajar dengan standar produksi sekaligus menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.
Dari balik jeruji, benang-benang itu kini dirajut menjadi harapan baru.
Bukan hanya soal tas, dompet atau boneka yang berhasil dibuat. Lebih dari itu, keterampilan tersebut menjadi bagian dari proses mempersiapkan warga binaan agar ketika kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak pulang dengan tangan kosong. (das)










